top of page

Surprise..!!

  • Writer: Il pellegrino
    Il pellegrino
  • Jun 23, 2022
  • 5 min read

Updated: Jul 15, 2022

Sang Surya tampak malu-malu menunjukkan sinarnya ketika gumpalan awan berkejaran di sekitarnya. Di bawah terik matahari yang tidak terlalu panas itulah 103 anak yang notabene berpakaian hitam tampak berkumpul di tanah lapang berselimut rumput hijau. Di lapangan sepak bola Civita Youth Camp itulah, anak-anak yang terlibat dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) tengah bersiap mendirikan tenda berwarna kuning dengan tulisan Lafuma. Tenda inilah yang sedianya menjadi tempat merebahkan diri pasca berdinamika sehari, termasuk sehabis berjalan kaki sejauh 9 Km. Singkatnya, tenda pun berdiri dan kegiatan berlanjut. Semua tampak baik-baik saja. Jam menunjukkan pukul 15.44, saat awan hitam tiba-tiba menyergap dan menyelimuti langit Civita.



Kala itu, peserta dan para pendamping sedang asyik menikmati keseruan Games yang telah dipersiapkan. Permainan inilah yang sedianya menjadi cara menginjeksikan nilai-nilai khas sekolah yang terletak di Pejaten Barat 10 A ini.
Tanpa permisi, hujan pun mengguyur deras. Petir menyambar-nyambar beserta angin yang berhembus kencang tanpa peduli siapa yang diterpanya.
Anak-anak beserta gurunya pun segera berteduh. Namun demikian, masih ada beberapa orang guru yang sibuk hilir mudik di sekitar tenda sembari merapikan tenda yang terbuka pintunya maupun yang tercabut pasaknya. Sadar bahwa air mulai menggenang dan hujan tak menunjukkan tanda-tanda reda, evakuasi pun dipilih. Anak-anak yang terjebak di dalam tenda pun dipindah ke tempat yang lebih aman. Barang-barang pribadi yang tertinggal di dalam tenda pun diselamatkan sejauh memungkinkan.




Acara yang sebelumnya telah disiapkan, berantakan. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing sembari bertanya "Mau dibawa kemana LDK ini? " Alih-alih sibuk memikirkan keberlangsungan acara, hal yang waktu itu mendesak dilakukan adalah memastikan agar anak-anak terperhatikan kesehatannya (kering pakaiannya dan dapat dan tidur dengan layak). Dengan kata lain, kondisi tersebut memaksa baik peserta maupun pendamping yang hadir di tempat itu untuk serentak menekan tombol survival mode. Prioritas utamanya ialah kesehatan dan nyawa, terutama anak-anak yang harus tumbang karena terlalu lelah berjalan dan kedinginan sehabis diguyur hujan.
Meskipun ada dalam keterbatasan dan ketidakidealan, pengalaman LDK ini agaknya meninggalkan kesan tersendiri.
Alih-alih diinjeksikan melalui permainan, nilai-nilai mendasar justru anak-anak peroleh dari pengalaman chaos dan surprising saat badai menghantam Kompleks Civita.
Hal inilah yang secara sadar atau tidak sadar membuat para peserta LDK beserta pendampingnya memiliki pengalaman berjumpa dengan batas diri. Semoga bukan kekalutan pasca badai yang semata-mata teringat. Semoga peserta maupun pendamping mengingat bahwa karena badai, 119 orang pernah tidur di lantai yang sama dan di bawah atap yang sama. Sekalipun harus dilalui dengan dinamika yang ada di dalamnya, semoga berhadapan dengan badai menjadi pengalaman yang mendewasakan. Satu hal yang perlu diingat dan dicamkan dalam hati, di hadapan badai mereka berhasil survive.




Pengalaman ini agaknya meneguhkan sesuatu. Di luar diri manusia, ada berbagai hal yang tidak dapat dikendalikan. Salah satunya ialah alam. Sah-sah saja jika alam memberikan kejutan dan secara tiba-tiba menurunkan hujan deras. Sebesar apapun diupayakan, manusia terlalu kecil untuk dapat mengendalikan hujan yang tiba-tiba deras mengguyur.
Maka dari itu, di hadapan sesuatu yang tak dapat dikendalikan, tindakan paling bijak yang dapat seorang manusia lakukan adalah menerimanya.
Penerimaan inilah yang menyembuhkan. Lebih dalam lagi, seseorang perlu belajar untuk dapat lebih siap dan menyongsong berbagai kejutan yang tanpa sengaja dapat ditemukan dalam perjalanan hidupnya. Seseorang perlu menempatkan diri seperti sebatang sponge yang siap menyerap setiap titik air yang menyentuh permukaannya.


Tepat pada tanggal 15 Juni 2022 lalu, aku memperingati setahun keberadaanku di Gonzaga. Kuingat, setahun lalu aku dijemput jam 19.00 oleh 2 orang sahabatku. Ada rasa kikuk dan roaming yang terjadi di hari awal itu.
Jika selama setahun lebih aku banyak menghabiskan waktu untuk menjawab pertanyaan apa itu manusia, kini aku harus belajar lagi mengakrabkan diri dengan manusia dalam arti sesungguhnya.
Dulu aku familiar dengan istilah ada, mengada, Dasein, L’etre en soi, dan Sein un Zeit. Begitu tiba di kompleks Pejaten Barat 10A, aku perlu melakukan upgrading dan membuka diri pada kata-kata baru seperti Lobis, Senat, Turing, Ratin, Slay, Sabi, Kena Mental, dsb. Dengan alasan skripsi dan mengerjakan paper kuliah, aku dapat berkelit dan bersembunyi di sebuah zona nyaman bernama kamar. Di tempat ini, aku harus keluar dari zona nyaman, berdiri di depan sliding door setiap pagi sambil melambaikan tangan dan berkata, “Halo, selamat pagi..” Namun demikian, hal yang agaknya lebih penting untuk kucatat ialah pengalaman penting yang terjadi selama setahun di Gonzaga.
Apabila diringkas dalam satu kata, pengalaman setahun ke belakang ini sarat dengan kata “kejutan”.
Kejutanku di Gonzaga diawali dengan merebaknya varian baru virus Corona bernama Delta. Aktivitas di Gonzaga pun total dialihkan secara virtual, termasuk berbagai persiapan menjelang Gonzaga Festival. Melalui hal inilah kejutan selanjutnya justru kuterima. Dalam keterbatasan yang ada, panitia Gonzaga Festival tetap berusaha merawat harapan dan semangat yang ada.



Usaha mereka berbuah manis. Gonzaga Festival dengan tagline, “Jatuh satu, bangkit seribu” pun dapat berlangsung dengan lancar. Pengalaman inilah yang agaknya menyadarkan sesuatu bagiku. Sekecil apapun nyalanya, harapan tetap harus dirawat dan dipastikan pendarnya.
Jiwa-jiwa muda inilah yang menyadarkan aku yang kadangkala mudah kehilangan harapan, “Frat, harapan masih ada. Kuy jalan bareng kami dan rawat harapan ini..”
Mungkin aku datang ke Gonzaga untuk menjadi pendamping bagi kawula muda Gonzaga. Faktanya, akulah yang agaknya perlu didampingi dan ditemani oleh jiwa-jiwa muda luar biasa yang tiada lelah meneguhkan bahwa harapan masih ada. Perjumpaan dengan jiwa muda Gonzaga inilah yang justru menumbuhkan preseden positif dalam diriku. Aku tidak sabar untuk dapat menantikan perjumpaan-perjumpaan yang akan datang.


Meluangkan waktu untuk sekedar mengobrol ringan, dan berbagi pandangan maupun keseruan adalah sekian banyak hal yang kunantikan ketika tatap muka langsung semakin lebar kemungkinannya. Kejutan inilah yang menjadi awal berbagai kejutan-kejutan yang kuterima selama aku berada di Gonzaga. Kejutan lain yang kuterima dan juga perlu kusebutkan ialah para guru SMA Kolese Gonzaga.
Selama berada di Gonzaga, aku bersyukur mendapat kejutan dengan diberi rekan kerja yang sekaligus menjadi teman healing.
Mereka menjadi kolaborator sekaligus teman deep talk ketika berbagai kesibukan di Gonzaga mereda. Selain itu, dari para guru pula aku belajar artinya menemani anak dengan semangat cura personalis. Mengetahui kondisi kesehatan, tingkat motivasi belajar, bahkan impian yang kelak akan diwujudkan menjadi sebagian dari sekian banyak hal yang harus para guru ketahui dari anak-anak yang mereka temani.


Tidak mengherankan apabila di hadapan mereka, aku kerap menempatkan diri juga sebagai seorang murid yang siap mencatat, mencerna, serta membatinkan setiap hal yang mereka lakukan.
Selain itu, harus diakui bahwa menghabiskan waktu sejak pagi hingga sore hari di Gonzaga itu melelahkan. Setelah menyelesaikan berbagai tugas, koreksi, dan catatan rapat, aku perlu tempat untuk menyandarkan diri.


Aku perlu tempat untuk mengambil jarak dari berbagai hal yang terjadi dan menikmati kebersamaan dengan rekan seserikatku. Maka dari itu, aku bersyukur atas kejutan yang terakhir kusebutkan ini, yaitu komunitas Yesuit.
Menyenangkan rasanya bisa menikmati sisa hari dengan menyantap kudapan malam hari, sembari melibatkan diri dalam pembicaraan dengan para sahabat seperjalanan, yang lebih kaya baik dalam ilmu maupun pengalaman.
Di hadapan merekalah, aku yang masih muda ini merasa diberi rumah dan diberi ruang leluasa untuk bertumbuh menjadi pribadi maupun Yesuit yang lebih matang.




Hanya kata syukur yang dapat kuucapkan atas berbagai kejutan yang kuterima. Aku yakin, skenario kehidupan yang telah disiapkan-Nya tidak pernah mengecewakan. Tuhan tidak kehabisan ide untuk membuat makhluk rapuh sepertiku menggaruk-garuk kepalanya sembari bertanya, “Tuhan, Engkau mau aku kemana?” Akan ada 1001 plot twist yang Tuhan berikan kepadaku. Aku tak dapat mengendalikan-Nya. Aku tak punya pilihan selain belajar untuk siap sedia dan terbiasa dengan berbagai perubahan, bahkan kejutan yang diberikan-Nya.
Akhirnya, kepada mereka yang telah menjadi bagian dari kejutanku, aku hanya dapat mengucapkan terima kasih karena mau menjadi teman seperjalananku.
Terima kasih karena mau menjadi sosok yang mau tumbuh bersama sekaligus memastikan pertumbuhanku. Tidak mengherankan, atas berbagai hal yang kualami di Gonzaga setahun ini, tersembul rasa takut akan kehilangan. Pertanyaan yang kerap terlintas dalam benak pun berubah. Di awal keberadaanku di Gonzaga pertanyaan yang kerap terlintas ialah, “Sudah berapa lama di Gonzaga?”. Setahun berlalu. Berbagai pengalaman kualami. Berbagai pribadi kujumpai.




Kini, tiba saatnya bagiku untuk mulai menghitung mundur sampai waktu itu tiba, sembari mengajukan 2 (dua) pertanyaan berikut, “Kurang berapa lama lagi aku ada di Gonzaga? Plot twist macam apa lagi yang telah disiapkan Sang Sutradara?”

Comments


bottom of page