Dear God, Dear Gonz
- Il pellegrino

- Jun 29, 2023
- 8 min read
Updated: Jul 11, 2023
Tuhan, tidak terasa. Kini saatnya aku berkemas. Ternyata sudah 2 tahun sejak sebuah surat elektronik tertanggal 16 Maret 2021 itu mampir ke kotak masuk emailku. Aku ingat, dengan jantung berdegup kencang dan harap-harap cemas, aku membuka pesan itu. Alih-alih tenang, membaca kutipan surat berikut justru menggelisahkanku
“...Frater Gregorius Agung Satriyo Wibisono SJ menjalani formasi Tahap Orientasi Kerasulan (TOK) di SMA Gonzaga…”
Berbagai pertanyaan bermunculan dalam benakku. Gonzaga? Mengapa Gonzaga dan bukan tempat lain? Apa yang bisa kuharapkan dari Gonzaga ketika seluruh dunia sedang dilanda pagebluk?
Tiga bulan berlalu. Tiba saatnya bagiku buat berangkat. Yang kubawa tidak hanya barang-barang yang akan mengisi kamarku, tetapi juga kegelisahan serta kegamangan yang tengah mengisi relung hatiku. Alih-alih disambut oleh sapaan ramah warga Gonzaga, aku disambut dengan ledakan kasus Covid varian Delta. Mencekam, tidak pasti, dan membosankan. Inilah tiga kata kunci yang melukiskan suasana batinku saat itu.
Alih-alih mendapat tugas baru dengan suasana baru, aku seperti hanya pindah lokasi Zooming. Rasa-rasanya aku lebih akrab istilah breakout room, oncam/offcam, mute/unmute, host, dan co-host, daripada dengan para guru dan siswa yang ada di sekolah yang konon didirikan oleh seorang Jesuit Belanda bernama Pater J.Drost, SJ.
Aku ingat, 3 bulan pertama di Gonzaga rasanya seperti 3 bulan berjalan di tengah padang pasir yang gersang, sunyi, dan tidak pasti.
Gersang karena rutinitas diawali dan diakhiri di depan layar. Sunyi karena yang kerap kutemui bukanlah interaksi dengan wajah para guru maupun siswa/i, melainkan interaksi dengan layar hitam dengan rangkaian huruf yang membentuk nama-nama asing, yang tak pernah kuketahui seperti apa wajah pemilik namanya. Tidak pasti karena aku pun tidak tahu, sampai kapan hal ini akan berakhir.
Syukurlah, rahmat kesabaran dari-Mu tidak kunjung habis. Jika tidak, mungkin akan akan mulai berpikir untuk mengemasi barang-barangku dan berpindah ke tempat lain.
Waktu berlalu, ternyata dunia ini perlahan mampu menyembuhkan dirinya. Pelan tapi pasti, perjumpaan langsung baik dengan para guru maupun anak-anak mulai kualami.
Suasana memang masih serba terbatas oleh jarak dan masker. Tapi perjumpaan langsung yang kualami mulai membuatku menemukan percik-percik kegembiraan di Gonzaga waktu itu.
Hari-hari berlalu. Kondisi Gonzaga pun semakin mendekati normal. Segala kegiatan akhirnya dapat berjalan normal. Hari-hari berlalu itu berarti menyiratkan sesuatu. Tidak terasa, dua tahun di Gonzaga pun hampir berlalu. Banyaknya rahmat yang kuperoleh pun membuat kurun waktu 2 tahun pun terasa demikian cepat. Aku bersyukur atas banyaknya pengalaman sekaligus perjumpaan yang menjadi cara bagi-Mu untuk membentuk dan mendewasakanku.

Tuhan, tidak terasa. Kini saatnya aku berkemas. Ternyata sudah 2 tahun sejak aku mengenal 56 orang luar biasa yang menjadi bagian dari komunitas guru SMA Kolese Gonzaga Aku ingat, beberapa hari sebelum berangkat ke Gonzaga, Pater pendampingku pernah berpesan demikian,
“Wib, tugas utamamu di Gonzaga nantinya adalah untuk belajar dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya.”
Maka dari itu, aku pun datang ke kompleks west Pejaten ini pertama-tama sebagai seorang murid. Dari Bapak/Ibu Guru yang telah puluhan tahun membesarkan Gonzaga inilah aku ingin menimba ilmu. Dari orang-orang luar biasa inilah aku belajar artinya menjadi sosok yang dapat "digugu lan ditiru", yang dapat diteladani dan dicontoh.
Dari merekalah aku diajak untuk menyadari bahwa sikap dasar yang harus seorang pendidik miliki adalah ketelatenan dan kesabaran. Tidak ada pertumbuhan yang terjadi secara tiba-tiba. Pertumbuhan itu perlu waktu. Aku belajar banyak dari ketelatenan Bapak/Ibu guru—yang rela menempuh jarak puluhan kilometer selama belasan, bahkan puluhan tahun—demi mendampingi anak-anak.
Secara khusus, melalui Bapak/Ibu Guru aku belajar maklum, bahkan memberi ruang bagi anak-anak untuk membuat kesalahan dan menemani mereka untuk bangkit kembali serta belajar dari kesalahan yang telah mereka lakukan.
Akan tetapi, Engkau ternyata menghadirkan mereka lebih dari sekadar seorang guru. Kehadiran merekalah yang membuatku merasa bersyukur karena merasa diberi teman seperjalanan. Ngopi, healing ke Curug, memasak di kos-kosan, mengantre di SS selama satu jam, dan berbagi keceriaan di sela-sela pekerjaan adalah beberapa kebersamaan yang segera terlintas dalam benak ketika aku mengingat wajah mereka. Aku bersyukur punya mereka.
Sahabat sekaligus teman sambat inilah yang menjaga dan menemani setiap pengalaman pertumbuhanku, khususnya keyesuitanku selama di Gonzaga.
Merekalah menghiburku jika aku ‘bad mood’ dengan mengatakan, "Oy, Bang! Senyumnya mana, Bang?" Merekalah sosok yang tidak segan-segan memintaku berhenti bekerja sejenak jika sisi workaholic dan ambisiusku ‘kumat’ sambil mengatakan, "Ngopi sik, Frat.." Para guru SMA Gonzaga inilah yang mau menjadi teman seperjalananku, khususnya ketika aku harus melangkah gontai karena tak tahu apa yang seharusnya kulakukan dan kuputuskan. Singkat kata, para guru inilah yang menjadi ‘supporting system’ bagiku selama bertugas di SMA Kolese Gonzaga.

Tuhan, dua tahun berlalu sejak aku menjadi bagian dari sebuah komunitas bernama Komunitas St.Aloysius Gonzaga.
“Be not afraid! I go before you always. Come! Follow me and I will give you rest…”
Entah kenapa, kutipan lagu ini relate dengan perjalanan 2 tahun ini. Selama dua tahun di Gonzaga, Engkau tidak membiarkanku berjuang sendirian. Ada pribadi-pribadi yang memiliki visi yang sama, tujuan yang sama, dan panggilan yang sama. Aku bersyukur atas kehadiran-Mu dalam diri Pater, Frater, dan Suster yang tinggal serumah denganku. Sapaan, candaan, ajakan untuk 'nongkrong', kebersamaan di meja makan, dan kesatuan hati saat merayakan Ekaristi bersama, membuatku merasa didukung dan ditemani.
Secara khusus, aku bersyukur hadirnya para Jesuit yang selalu mendukung perjalananku di Gonzaga. dengan cara yang sangat unik, masing-masing dari mereka berupaya menyapa, menjaga, dan memastikan aku baik-baik saja.
Seorang Pater bahkan selalu konsisten mengirimkan foto saat donat dan Ikan Omega terhidang di ruang makan. Seorang Pater lain bahkan menemaniku dengan merelakan waktunya untuk sekadar ngopi di ruang moderator sambil 'nyore' dan saling berbagi cerita atas pengalaman di sekolah hari itu. Pater Jesuit lain ada yang dengan sangat 'random' memintaku pulang ke rektorat hanya untuk minum kopi sambil mengatakan,
"Dah, sekolah kamu tinggal dulu aja. Nggak akan ambruk kok. Kamu istirahat dulu di sini saja sambil minum kopi buatan saya".
Seorang Pater yang dengan murah hati merelakan waktu makan malamnya, bahkan hingga tengah malam, untuk mendengarkan kegelisahanku selama berada di Gonzaga.
Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengirimkan orang-orang ini. Lewat perhatian dan dukungan mereka, wajah dan kehadiran-Mu jadi demikian dekat. Saat sulit bahkan dapat kulalui karena wajah-Mu dapat dengan mudah kutemukan dalam diri mereka.
Dengan cara yang unik, masing-masing dari mereka ingin memastikan bahwa pertumbuhkanku dapat berjalan dengan baik.
Dengan cara yang unik pula, masing-masing dari mereka berusaha memastikan agar aku tidak berjalan sendirian. Sekali lagi, aku bersyukur karena Engkau memberikan mereka sebagai teman seperjalananku. Perjumpaan dengan mereka inilah yang membuatku semakin yakin bahwa panggilan Jesuit muda ini layak dan pantas untuk diperjuangkan.

Tuhan, ternyata sudah 2 tahun berlalu sejak aku pertama kali membuka Zoom dan bertemu dengan anak-anak muda Gonzaga secara daring dalam Integrasi Gonzaga (Inzaga) Pertama. Asing, bingung, dan merasa diri awkward, jadi perasaan yang dominan kurasakan saat itu. Agak aneh rasanya bertemu orang banyak tetapi dalam satu layar. Syukurlah, dinamika seperti ini hanya kualami beberapa saat saja di Gonzaga. Pelan tapi pasti, kondisi pandemi semakin membaik.
Setelah 6 bulan di Gonzaga, akhirnya aku bisa sepenuhnya berjumpa secara langsung dengan orang-orang muda yang kudampingi di Gonzaga. Aku menikmati proses untuk memahami dunia anak-anak Gonzaga.
Akupun tak keberatan untuk mempelajari cara mereka berbicara yang keinggris-inggrisan, yang kerap mereka sebut dengan “Bahasa Jaksel”.
Aku menikmati memberi contoh kepada mereka menerapkan prinsip 3S (Senyum, Sapa, Salam). Itu makanya, dengan cara yang kubisa, aku berusaha menyapa masing-masing dari anak-anak Gonzaga. Aku berusaha keras menghafal nama masing-masing dari mereka, menyapa mereka di lorong-lorong Gonzaga, sambil sesekali memberikan Fist Bump. Itu makanya, saat Gonz people mulai masuk sekolah, aku punya side job—selain main job sebagai seorang guru—yaitu sebagai tukang ramal. Bayangkan! Aku harus bisa menebak, meramal, dan menghafal identitas seseorang hanya dengan bermodal pengenalan atas mata, jidat, dan bentuk rambutnya.
Pertanyaan ‘receh’, “Tebak, nama saya siapa, Frat?” adalah pertanyaan sederhana, yang kerap kali cukup efektif untuk membuatku kena mental.
Aku menikmati menyapa anak-anak dengan nyore di ruang moderator maupun ruang senat. Menyenangkan bisa duduk dan menemani anak-anak ‘ngemper’ di depan sporthall, baik mereka yang menantikan jemputan, menunggu ongkos ojol agar lebih miring tarifnya, maupun mereka yang sengaja ingin pulang agak sore karena tidak tahu apa yang harus dilakukan di rumah. Di sinilah beragam hal bisa kudengar dari mereka, mulai dari candaan receh “nempel-ngga nempel”, cerita mereka yang sedang kasmaran, hingga cerita-cerita keseharian mereka di Gonzaga.
Hal lain yang patut diingat adalah saat menjadi pendamping bagi anak-anak dalam berbagai acara dan kepanitiaan yang mereka selenggarakan, mulai dari MIG, Inzaga, GLF, Jambore, Retret, dsb. Sekalipun harus rapat hingga larut malam dan dengan perdebatan yang kadang-kadang alot, aku selalu dibuat kagum dengan ide kreatif yang mereka munculkan.
Aku selalu dibuat tertegun ketika melalui kepanitiaan dan kelompok yang kudampingi, anak-anak bisa mengalami pertumbuhan, baik dalam hal kepemimpinan, kepercayaan diri, kemampuan berpikir kritis, dan kerendahan hati untuk mengubah rencana yang telah ditata rapi.
Secara khusus, aku ingin bersyukur atas kepercayaan yang anak-anak berikan, sehingga mereka mau bermain ke ruang moderator. Awalnya, mereka cuma mau datang untuk mencari tempat ngadem dan meminta permen serta beberapa snack yang sengaja kusimpan jika aku lapar. Lama kelamaan ruang moderator jadi tempat yang cukup nyaman bagi mereka untuk deep talk. Aku bersyukur boleh mendengarkan cerita mereka, menemani proses pergulatan mereka, dan melihat pertumbuhan mereka.
Dari pengalaman mendengarkan cerita mereka, aku bersyukur dapat sekaligus melatih anak-anak untuk mampu menemukan jejak-jejak kehadiran-Mu dalam hidup mereka.
Ada kepuasan tersendiri ketika mereka sampai pada kesadaran bahwa hidup yang dimiliki, sebanyak apapun masalah yang dihadapi, selalu layak untuk diperjuangkan dan dijalani.

Tuhan, aku hanya bisa bersyukur dan berterima kasih atas banyak rahmat yang telah kuperoleh selama 2 tahun ini. Terima kasih karena aku boleh belajar banyak dari setiap pribadi yang ada di kompleks Pejaten Barat 10A. Terima kasih karena aku boleh merasa memiliki dan dimiliki oleh setiap pribadi yang ada di dalamnya. Aku yakin, tanpa mereka, perjalanan yang kumiliki tidak akan sampai sejauh ini. Aku cukup yakin, tanpa doa dan dukungan mereka, aku tidak akan mampu bertahan sampai di titik ini.
Tuhan aku ingin berdoa buat Bapak/Ibu Guru SMA Kolese Gonzaga yang selama 2 tahun ini telah menjadi teman sekaligus panutan bagiku. Tuhan, jagalah Bapak/Ibu Guru SMA Kolese Gonzaga! Anugerahkanlah kesehatan buat mereka. Temanilah mereka agar dapat menjadi perpanjangan tangan-Mu, khususnya untuk menemani anak-anak yang sudah mempercayakan diri kepada Gonzaga.
Jadikanlah Bapak/Ibu Guru sosok yang senantiasa dapat “digugu lan ditiru” di sekolah, di keluarga, dan di tengah masyarakat.
Anugerahkanlah rahmat agar Bapak/Ibu Guru terampil menemukan jejak-jejak kehadiran-Mu, khususnya lewat pengalaman sederhana, yang telah mereka alami dalam hidup mereka. Semoga kemampuan hal inilah yang nantinya dapat ditularkan kepada anak-anak yang Bapak/Ibu Guru dampingi, sehingga mereka sampai pada kesadaran bahwa hidup yang dimiliki sungguh layak disyukuri dan diperjuangkan.
Tuhan aku ingin berdoa buat komunitas yang menjadi tempatku bernaung selama 2 tahun ini. Tuhan, jagalah anggota komunitas St.Aloysius Gonzaga dan Kepamongan Seminari Wacana Bhakti. Jagalah kesehatan mereka dan kesatuan hati mereka sebagai sebuah komunitas. Berikanlah mereka semangat dalam tugas pelayanan yang para Pater, Frater, dan Suster jalani.
Temani mereka jika ada jalan terjal yang harus mereka lalui dalam tugas pelayanan mereka masing-masing.
Semoga sukacita para Pater, Frater, dan Suster dalam mengikuti panggilan-Mu dapat mereka tularkan kepada setiap pribadi yang mereka layani.
Tuhan aku ingin berdoa buat Siswa/i Angkatan 33, 34, 35, dan 36 SMA Kolese Gonzaga, yang selama 2 tahun telah menjadi sahabat-sahabat kecil yang menjadi teman seperjalananku. Tuhan, jagalah siswa/i SMA Kolese Gonzaga! Temani mereka selalu, terutama jika yang ada di hadapan mereka adalah peristiwa yang sarat ketidakpastian. Temani mereka untuk bangkit jika yang dialami adalah pengalaman yang sarat kegagalan. Mampukan mereka untuk memeluk, menghidupi, dan menjaga nilai Conscience, Competence, Compassion, Commitment, Honesty, dan Simplicity. Semoga core values inilah yang senantiasa menjadi pegangan mereka dalam menjalani proses pendidikan SMA Kolese Gonzaga ini.
Jagalah kekompakan dan persaudaraan mereka agar setiap pribadi yang menyandang nama “Anak Gonz” dapat tersapa dan mengalami Kolese Gonzaga sebagai rumah kedua mereka.



Comments