top of page

Utuh

  • Writer: Il pellegrino
    Il pellegrino
  • Mar 7, 2023
  • 5 min read

Updated: May 11, 2023

Kabut baru saja turun. Bersamaan dengan itu, hujan rintik membasahi sebuah desa kecil di kaki Gunung Kendang bernama Kertasari. Desa itu biasanya sunyi. Hanya suara mesin sepeda motor yang sayup-sayup terdengar di antara rimbunnya kebun teh. Akan tetapi, pagi itu, suasana kertasari agak berbeda. Keheningan yang ada, tiba-tiba terpecah oleh suara gelak tawa serombongan anak muda. Mereka menamakan diri sebagai siswa/i Gonzaga.


Sorot mata mereka menggambarkan kegembiraan yang tak dapat ditutup-tutupi. Bagaimana tidak? Jika biasanya rumah-runah berdinding tebal yang mereka temui, kini yang ada di hadapan mereka adalah kebun teh yang terhampar hijau. Tanpa peduli pakaian yang melekat pada tubuh, mereka bersemangat mengikuti ibu-ibu pemetik teh untuk menerobos rapatnya tanaman teh. Mereka kegirangan ketika untuk pertama kalinya berhasil memetik sepucuk daun teh dengan tangan mereka.
Dahi mereka seketika mengernyit saat pucuk teh yang ada di tangan mereka cium dan coba tangkap aromanya. Pelan tapi pasti, keranjang yang mereka gendong pun penuh dengan pucuk-pucuk daun teh. Ini artinya, saatnya tiba untuk menimbang daun teh. Anak-anak muda ini pun kembali ke jalan setapak dan melangkah pulang.


Dinamika di atas adalah bagian kecil dari kegiatan yang dialami oleh Angkatan 34 di Kertasarie, Jawa Barat. Selama 3 hari 4 malam anak-anak muda ini berupaya menjalin keakraban tidak hanya dengan seangkatannya, tapi juga dengan suhu udara 23 derajat di pagi hari dan 16 derajat di malam hari. Berbekal latihan yang telah dijalani, mereka pun berusaha bertahan hidup dengan tetap memasak sekalipun harus bergerilya di tengah udara dingin dan rintik-rintik hujan. Harapannya, dinamika yang ada membuat mereka menjadi pribadi yang semakin memiliki kelincahan dalam beradaptasi dan kelenturan dalam membawakan diri.

Satu Fenomena, Beragam Paradigma


Selain memberi ruang pada kegiatan yang sifatnya rekreatif, di Kertasari Angkatan 34 sejatinya sedang diajak belajar. Jika diringkas dalam sebuah kalimat, Angkatan 34 sedang diajak untuk memahami sebuah fenomena dengan menggunakan beragam paradigma. Dengan memahami suatu perkara dengan beragam sudut pandang, pemahaman atas hal tersebut akan semakin komprehensif dan lengkap.


Di Kertasari, mereka berupaya menelaah sebuah fenomena bernama teh dengan beragam sudut pandang. Konkritnya, untuk membuat secangkir teh ada serangkaian proses yang terjadi. Dari sudut pandang Ilmu Kimia, ada proses tertentu dalam pengolahan teh, sehingga muncul senyawa yang ketika diminum memberi dampak positif bagi kesehatan manusia. Karena memproduksi teh memerlukan tenaga manusia, maka berbicara tentang pengolahan teh berarti berbicara pula tentang tingkat kesejahteraan ekonomi para pekerja yang terlibat di dalamnya. Selain itu, hanya dengan bentuk kemasan yang menarik, sebuah produk dapat bersaing dengan produk-produk lain. Maka dari itu, agar produk olahan teh semakin dikenal dan digandrungi, diperlukan desain produk yang dapat dapat menarik perhatian masyarakat agar tergerak untuk membeli. Di sinilah seni tidak kalah penting untuk dibicarakan.


Sekali lagi, dengan memahami suatu perkara dengan beragam sudut pandang, pemahaman atas sesuatu akan semakin komprehensif dan lengkap. Dari satu fenomena bernama Pabrik Teh Kertasarie, ternyata ada banyak sudut pandang yang dapat digunakan untuk memahaminya, baik biologis, mekanis, sosiologis, maupun ekonomis. Alih-alih berfokus pada tujuan praktis bernama Ujian Praktek, melalui kegiatan ini, Angkatan 34 sedang diajak untuk merengkuh sebuah tujuan yang lebih fundamental. Sebuah fenomena dapat dikupas dari berbagai sudut pandang pengetahuan. Dengan demikian, dapat diperoleh pengetahuan yang lebih holistik, khususnya karena adanya banyaknya kacamata yang digunakan untuk melihat sebuah persoalan.

Tempat ‘Baikan’ dan ‘Balikan’

Selain secara akademis, Kertasarie menjadi saksi bisu semakin solidnya Angkatan 34 SMA Kolese Gonzaga. Sekalipun 2 (dua) hal berbeda, dinamika angkatan dan riset lapangan atas Pabrik Teh Kertasarie memiliki kata kunci yang sama. Dengan memahami suatu perkara dengan beragam sudut pandang, pemahaman atas hal tersebut akan semakin komprehensif dan lengkap. Dengan dinamika yang dijalani bersama, Angkatan 34 berupaya melihat angkatan dari berbagai sisi, terutama dengan semakin mengenal orang-orang yang menjadi bagian di dalamnya. Arahanya jelas, yaitu agar mereka yang menjadi bagian dari Angkatan 34 SMA Kolese Gonzaga ini merasa memiliki dan dimiliki oleh angkatan ini.

Barangkali ada rasa kikuk dan awkward saat dinamika Field Trip ini terjadi. Tidak sedikit dari mereka yang menjadikan Field Trip menjadi ajang berinteraksi untuk pertama kalinya. Fakta ini tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa angkatan ini bertemu dan menyatu di Gonzaga ketika kasus Covid sedang tinggi-tingginya. Ikatan itu ada, tapi samar-samar. Maka dari itu, Field Trip di Kertasarie menjadi kesempatan untuk memperkuat ikatan ini.
Sekalipun baru beberapa kali berjumpa—bahkan berbicara—dengan teman angkatannya, ternyata kawula muda Gonzaga ini mampu menunjukan kelenturan dan kemampuan adaptasi mereka, khususnya ketika mereka diharuskan untuk bekerja dalam kelompok yang anggotanya tidak sangat mereka kenali. Sebagai kelompok, mereka bisa menuntaskan tugas yang diberikan. Sebagai kelompok mereka bisa mengambil keputusan dengan cepat atas masakan yang akan disajikan sebagai sarapan. Sekalipun tidak terbiasa, mereka bisa tidur bersama dalam satu tenda, bahkan menerima kenyataan bahwa teman setendanya mendengkur saat tidur.

Lebih dalam lagi, Kertasari pun menjadi ruang bagi dari angkatan ini untuk mengurai benang kusut permasalahan yang pernah terjadi antar mereka. Pembicaraan terjadi. Dinding-dinding yang semula dibangun untuk mengurung diri, dirobohkan. Jembatan-jembatan relasi yang semula terputus, dibangun kembali. Maka dari itu, Kertasarie pun menjadi saksi bisa baik bagi mereka baik yang “baikan” maupun “balikan”.

Pertobatan Personal


Dari pengalaman mendampingi Field Trip, aku belajar sesuatu. Kadangkala aku terbiasa untuk memandang sesuatu secara parsial. Padahal, informasi yang terpisah dan terpecah membuat kebenaran atas sesuatu tidak utuh. Implikasinya, seseorang kerap kali jatuh pada judgement yang terlalu prematur. Ini berbahaya dan cenderung membawa seseorang pada kemandekan pertumbuhan. Pemberian stereotype atas seseorang berbekal pengenalan yang tidak utuh pun cenderung menjatuhkan. Penilaian berbekal informasi yang bersifat parsial juga membuat kebenaran atas sesuatu tidak utuh. Oleh sebab itu, agaknya penting bagiku untuk mau dengan rendah hati bersabar untuk dapat melihat segala sesuatu secara utuh.


Melihat sesuatu secara utuh mengingatkanku pada salah satu doa yang ada dalam Latihan Rohani yang dituliskan oleh St.Ignasius Loyola, yaitu Kontemplasi untuk Mendapatkan Cinta. Di dalamnya, Ignasius mengajak orang yang menjalani Latihan Rohani untuk melihat alam dan segala isinya.
Memandang bagaimana Allah tinggal dalam ciptaan-ciptaan-Nya: dalam unsur-unsur, memberi “ada”nya; dalam tumbuh-tumbuhan, memberi daya tumbuh; dalam binatang-binatang, daya rasa; dalam manusia, memberi pikiran; jadi Allah juga tinggal dalam aku, memberi aku ada, hidup, berdaya rasa dan berpikiran.”
Dalam doa tersebut, Ignasius mengajak mereka yang mendoakan Latihan Rohani untuk dapat pertama-tama dapat melihat alam secara utuh. Secara khusus, seseorang diundang untuk sampai pada rasa kagum pada alam serta segala isinya, termasuk dalam keteraturan dan keindahan alam yang ada di hadapannya. Dalam rasa kagum inilah diharapkan seseorang sampai pada kesadaran akan keagungan Tuhan melalui ciptaannya, Dengan kata lain, seseorang diundang untuk dapat menemukan kehadiran Tuhan melalui ciptaan-Nya.
Lebih dalam lagi, jika seseorang dapat kagum dan terpesona oleh keindahan alam, bukankah sudah sepatutnya ia terkesan dan terkagum-kagum pula dengan keindahan hidup yang secara personal dimilikinya? Hal inilah yang secara personal menyadarkanku. Kerap kali aku menilai diri terlalu rendah. Aku jatuh pada judgement yang alih-alih mengembangkan, justru semakin mengkerdilkan. Karena tidak mampu melihat perjalanan hidup secara menyeluruh, aku jatuh pada penghakiman yang terlalu kejam atas diri.


Maka dari itu, aku merasa diundang untuk berani sejenak mengambil jarak sejenak, menyatukan berbagai perasaan serta pengalaman yang telah dialami, dan mensyukuri keindahan perjalanan hidup yang telah kulalui. Aku diundang untuk dapat melihat hidup ini secara menyeluruh dan utuh. Aku diundang untuk mensyukurinya sambil berkata pada diri, "Terima kasih sudah berjalan sampai sejauh ini." Berbekal rasa syukur inilah aku berharap dapat menemukan jejak-jejak kehadiran Tuhan yang ada dan menyejarah dalam hidupku. Dengan menyadari rahmat dan kehadiran Tuhan inilah aku berharap semakin sadar bahwa hidup yang kumiliki memang layak buat dihargai dan diperjuangkan.



"...jadi Allah juga tinggal dalam aku, memberi aku ada, hidup, berdaya rasa dan berpikiran. Bahkan dijadikan olehNya aku bait-Nya, karena aku telah diciptakan serupa dan menurut citra yang Mahaagung."

Comments


bottom of page