Tiga Puluh Empat
- Il pellegrino

- May 11, 2023
- 4 min read
Updated: Jul 11, 2023
Siang itu, dengan gegap gempita, sekelompok anak muda melemparkan toga di Sporthall SMA Kolese Gonzaga. Hal ini menjadi penanda berakhirnya proses pendidikan mereka di kompleks Pejaten Barat 10A. Menyaksikan hal ini, seketika muncul sebuah pertanyaan dalam benakku, “Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini?”
Buat mereka yang beriman Kristiani, cukup pasti mereka ingat—atau sekurang-kurangnya pernah mendengar—kata-kata ini. Seseorang di daratan Galilea, bernama Yesus Kristus, pernah mengucapkan kata-kata ini. Konteksnya waktu itu, Yesus mau menggambarkan masyarakat setempat yang menolak pewartaan-Nya. Dengan konteks agak berbeda, aku merasa tergerak untuk menjawab pertanyaan yang berusia 2000 tahun ini. Dengan apakah akan kuumpamakan angkatan 34 ini?
Imajinatif dan Eksploratif
Aku mengenal angkatan ini sebagai kelompok orang muda yang pribadi-pribadinya diberkati kemampuan berimajinasi. Pengalaman yang selalu kukenang adalah kemampuan mereka memulai kembali kegiatan formatif khas Kolese Gonzaga secara daring. Tidak mudah bagi sebuah komunitas angkatan—yang lahir dari konteks pandemi—untuk menginisiasi hal ini. Tidak ada bayangan, takut salah, dan tidak percaya diri. Barangkali, inilah perasaan yang berkecamuk dalam diri angkatan ini.
Akan tetapi, dalam kurun waktu yang kritis semacam ini Angkatan 34 mampu membuktikan diri mereka sebagai komunitas angkatan yang kaya akan imajinasi.
Tanpa imajinasi, agaknya cukup sulit untuk dapat mewujudkan hajatan besar yang khas SMA Kolese Gonzaga. Agak mustahil untuk mengadakan Integrasi Gonzaga (Inzaga) hybrid, Masa Inkorporasi Gonzaga (MIG) secara offline dan Gonzaga Lustrum Festifal (GLF) secara offline .
Angkatan ini tidak puas hanya melanjutkan tradisi yang biasanya ada di Gonzaga. Angkatan ini berupaya menemukan terobosan baru, sesuai dengan kebutuhan Gonzaga dan setiap pribadi yang ada di dalamnya.
Angkatan ini tidak puas pada level "yang penting ada", melainkan berdaya upaya agar kegiatan yang ada juga sampai pada level ”yang penting bermakna".
Lugasnya, angkatan ini diberkati dengan kemampuan bereksplorasi. Hal inilah yang membuat mereka berani mewujudkan trobosan nyata, seperti berjuang meluruskan makna “Competence” dalam MIG—yang selama ini dipersempit maknanya sekadar sebagai “daya juang”.
Dalam dan Kritis
Aku mengenal angkatan ini sebagai orang-orang muda yang memiliki kedalaman. Agaknya aku perlu berterima kasih karena angkatan ini mau percaya dan berbagi pengalaman yang sarat kedalaman kepadaku. Aku bersyukur karena dapat menjadi saksi kemurahan hati angkatan ini. Dari cerita mereka aku menangkap proses perjuangan yang masing-masing pribadi upayakan. Ada yang berjuang mewujudkan impian sekalipun artinya harus berseberangan dengan impian orangtua. Ada pula yang berjuang menjaga kewarasan di tengah tegangan antara tanggungjawab dalam kepanitiaan dan pembelajaran. Dengan kata lain, angkatan ini diberkati kedalaman yang senantiasa menarik untuk didengarkan dan ditimba inspirasinya.
Selain mampu membagikan kedalaman, angkatan ini juga kukenal sebagai angkatan yang diberkati dengan daya kritis. Pribadi-pribadi dalam angkatan inilah yang tidak mau tinggal diam di hadapan ketidakberesan.
Ketika Gonzaga ‘panen kasus’, berbagai pribadi dari angkatan inilah yang segera bereaksi dengan berkata, “Frat…Kami rasa Gonzaga lagi ngga baik-baik aja.”
Agaknya ini menjadi tanda jelas bahwa pribadi-pribadi di angkatan ini mau mengedepankan suara dalam nurani mereka. Dengan kata lain, pribadi-pribadi dalam angkatan ini berani memperjuangkan salah satu core values SMA Kolese Gonzaga, yaitu nilai Conscience. Mereka adalah A man and woman of his/her word, yang berani memperjuangkan “apa yang benar” sekalipun berseberangan dengan mereka yang disebut sebagai teman.
None left behind
Aku mengenal angkatan ini sebagai kumpulan orang muda yang punya hati untuk merangkul mereka yang berjalan sendirian. None left behind. Ada satu pengalaman yang kuingat terkait solidaritas dalam angkatan ini. Ketika musim ulangan tiba, mereka biasa mengadakan tutor daring (turing) melalui aplikasi Zoom. Dalam salah satu kesempatan aku menyempatkan diri untuk mampir dan menyapa mereka.
Dari obrolan yang terjadi, aku merasakan solidaritas angkatan ini. Mereka rela meluangkan waktu istirahat agar dapat berbagi ilmu dengan teman seangkatan yang membutuhkan bantuan. Maka dari itu, aku memiliki keyakinan bahwa angkatan ini memiliki ikatan yang kuat. Mereka bisa menjaga satu sama lain. Semoga ikatan yang ada tetap terjaga, dimanapun mereka berada dan menjadi apapun mereka nantinya
Akhirnya...
Dengan konteks angkatan yang ada, aku menyadari bahwa salah satu modal penting untuk menemani angkatan ini adalah kerendahanhati. Aku cukup yakin bahwa angkatan ini memiliki potensi baik dalam hal bakat, kemampuan, maupun benih-benih kepemipinan. Maka dari itu—di satu sisi—seni dari mendampingi angkatan ini adalah dengan memberi ruang untuk mengekspresikan gagasan yang mereka miliki. Di sisi lain, konsekuensinya jelas, yaitu terbuka pada pengalaman jatuh yang kadang kala (harus) dialami oleh masing-masing pribadi. Di sinilah rahmat kerendahanhati perlu terus menerus dimohonkan.
Akhirnya, aku bersyukur boleh menjadi teman seperjalanan dan saksi tumbuhnya masing-masing pribadi dari angkatan ini. Pribadi-pribadi yang ada di angkatan ini memang pernah jatuh. Mungkin karena memang mereka harus diberi ruang untuk jatuh. Bukankah jatuh adalah bagian dari sebuah dinamika pertumbuhan? Maka dari itu, sekalipun pernah jatuh, yang lebih perlu disyukuri adalah lewat pengalaman jatuh, setiap pribadi dalam angkatan ini belajar bangkit menjadi orang-orang tangguh.




Comments