Angon Bebek
- Il pellegrino

- Aug 11, 2022
- 4 min read
Updated: Jul 11, 2023
“Yo ra mesthi….Kadang bisa 8, kadang bisa 9, kadang bisa 11…”,
jawaban inilah yang terucap ketika aku bertanya, berapa telur yang dihasilkan oleh kawanan bebek kesayangan Bapak.
Menggembalakan bebek menjadi salah satu aktivitas yang dilakukan akhir-akhir ini oleh Bapak. Setiap kali pulang ke rumah, angon bebek (Jw: menggembalakan Bebek) menjadi salah satu aktivitas yang paling kunantikan. Ada keasyikan tersendiri yang muncul di dalam sana. Anak Jaksel akan bilang, menggembalakan bebek mungkin jadi salah satu caraku merawat inner child.

Seperti biasa, di rumahku, hari selalu diawali dengan jalan kaki pagi sekeluarga sambil berkeliling desa. Sepulang jalan sehat, aku dan Bapak biasanya segera menuju kandang dan membuka pintunya. Tujuannya agar bebek peliharaan Bapak dapat bermain-main di sekitar pematang sawah sembari mencari cacing dan keong di sawah kepunyaan Bapak.
Sembari kosong, aku dan Bapak pun segera memasuki kandang dan memungut beberapa butir telur yang dihasilkan kawanan Bebek peliharaan Bapak.
Tidak bisa dipastikan berapa banyak telur yang didapatkan setiap harinya. Tidak menutup kemungkinan jika tidak ada telur yang dihasilkan dalam sehari.
Akan tetapi, bertelur banyak atau sedikit, ada telurnya atau tidak, Bapak akan tetap menyediakan campuran nasi aking, dedak, dan konsentrat yang selalu habis diserbu oleh kawanan Bebek tersebut. Bertelur atau tidak, bebek-bebek ini akan tetap diberi makan. Sekalipun kerap agak kepayahan, bebek-bebek ini akan tetap dimasukkan kembali ke kandang ketika senja menyergap. Jumlahnya akan selalu dihitung dan dipastikan tidak ada yang terpisah dari kawanan.

Demikianlah dinamika tersebut berulang dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Bebek-bebek itu keluar dari kandang, bermain-main di sawah, dan masuk lagi ke kandang dengan tembolok penuh cruatacea dan mollusca.
Syukur jika dari segala hal yang dilakukan bebek-bebek tersebut dapat diperoleh hasilnya, yaitu beberapa butir telur. Jika tidak, ya sudah.
Tidak ada hal lain bisa dilakukan. Lagi pula tidak ada booster apapun yang dapat diberikan kepada si Bebek, yang bisa memaksanya memenuhi target jumlah telur yang harus dihasilkan setiap harinya. Di hadapan hal yang tidak dapat kita kendalikan, bukankah menerima adalah sikap dasar yang paling baik dilakukan ?

Angon Bebek bersama Bapak ternyata mengajarkanku sesuatu. Bahwa tidak ada hal yang pasti di muka bumi ini. Yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Jawaban Bapak saat kutanya bisa dapat berapa butir telur sehari, agaknya menyiratkan hal itu. “Yo ra mesthi….Kadang bisa 8, kadang bisa 9, kadang bisa 11…” Ada banyak hal yang memang dapat manusia kendalikan. Akan tetapi, lebih banyak lagi hal yang terlalu mustahil bagi manusia untuk mengendalikannya.
Yang perlu kulakukan bukanlah memprediksi, mengira-ira, dan berharap-harap cemas atas hal yang tak pasti.
Yang perlu kulakukan bukan menarget jumlah telur yang dapat kupungut setiap harinya dari kandang. Yang perlu kulakukan adalah mengusahakan yang lebih pasti. Bersama Bapak, aku memastikan bahwa bebek-bebek peliharaan kami mendapat asupan nutrisi yang cukup dan tidak sakit. Hal yang dapat kami lakukan adalah sesuatu yang paling mungkin dilakukan, misalnya dengan memastikan agar jumlah bebek yang keluar-masuk kandang tidak berubah.

Singkatnya, di hadapan yang tidak pasti, yang paling banter dapat seseorang lakukan ialah memupuk ketekunan serta ketelatenan.
Sebuah perjalanan tidak selalu tampak jelas garis akhirnya. Yang perlu seseorang lakukan ialah memastikan kakinya tetap melangkah dan tidak terantuk batu.
Tidak selalu sebuah pertanyaan berakhir pada sebuah jawaban yang memuaskan. Alih-alih ditutup dengan tanda titik, jawaban sebuah pertanyaan kerap kali harus ditutup (sementara) dengan tanda koma.
Seseorang perlu terus-menerus menemukan, merumuskan ulang, dan meyakini jawaban tersebut, sekalipun ujung-ujungnya harus dibongkar serta dirumuskan ulang jawabannya.

Secara personal, aku belajar artinya mengakrabi sebuah ketidakpastian. Perkembangan sains dan perhitungan matematis, yang menjadi konteks tak terpisahkan dari hidupku tidak selamanya dapat menjanjikan kepastian. Masih ada ruang-ruang ketidakpastian yang serba abu-abu. Ruang abu-abu itu sarat ketidakjelasan dan ketidakpastian. Tidak terlalu jelas apa bentuknya dan kemana arahnya. Sekali lagi, yang dapat kulakukan ialah mengusahakan sebuah sikap bernama ketekunan.
Ketidakpastian yang kualami ketika angon bebek agaknya mengingatkanku pada seseorang di masa lalu. Ia adalah orang muda yang sejak semula ingin meniti karir sebagai tentara. Namun, upayanya runtuh ketika kakinya terkena pecahan peluru meriam dalam sebuah pertempuran.
Usai sembuh, kakinya cacat. Dalam kondisi inilah ia berhadapan dengan sebuah persimpangan. Ia mengalami ketidakpastian.
Di satu sisi, ia ingin melanjutkan kariernya sebagai tentara. Di sisi lain, dengan kecacatan yang ada padanya, apakah yang bisa dilakukan oleh seorang tentara yang pincang kakinya? Ia akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang peziarah miskin yang menyerahkan hidup pada Tuhannya.

Dari seseorang bernama Ignasius Loyola inilah aku belajar bahwa dalam hidup ini ada tegangan. Di satu sisi, aku perlu dan harus mati-matian memperjuangkan hal yang kuimpikan. Perlu ada strategi yang paling taktis untuk dapat mencapai hal tersebut. Di sisi lain, tidak ada hal yang pasti. Selalu ada ruang yang serba abu-abu. Seringkali, di ruang inilah Tuhan tiba-tiba melakukan intervensi dan memberikan kejutan, yang sekaligus dapat membalikkan setiap rencana manusiawi yang telah disusun rapi. Inilah yang secara konkret dialami oleh Ignasius Loyola.
Oleh sebab itu, ruang ketidakpastian kini tak hanya perlu dipandang sebagai ruang yang serba menegangkan dan menjengkelkan.
Sebagaimana dialami Ignasius, ruang ketidakpastian perlu dipandang sebagai tempat bagi Tuhan untuk hadir dan memberikan kejutan yang berdaya ubah bagi hidup seseorang.
Ruang ketidakpastian inilah yang membawa seseorang Ignasius Loyola mengalami pertobatan dan berbalik kepada Tuhannya. Mimpinya sebagai tentara pupus dan digantikan oleh mimpi untuk mendedikasikan hidup bagi Tuhan, khususnya dengan memperhatikan mereka yang terpinggirkan.




Comments