Belajar di Barcelona
- Il pellegrino

- Jul 10, 2023
- 3 min read
Updated: Jul 11, 2023
"Ketika sampai di Barcelona ia membicarakan keinginannya untuk belajar dengan Isabella Ros[c]er dan dengan magister Ardevol, yang mengajar bahasa Latin dasar. Kedua-duanya merasa bahwa itu baik sekali." [Autobiografi 54]
Belajar Bahasa
Misi pertamaku setelah sampai di Roma adalah belajar bahasa yang sama sekali baru buatku, yaitu Bahasa Italia. Selain sebagai persiapan kuliah, belajar bahasa lebih-lebih jadi modal dasar buat bertahan hidup. Konon Bahasa Italia adalah perkembangan lebih lanjut dari Bahasa Latin. Tapi pengalaman belajar Bahasa Latin 4 tahun di Seminari Mertoyudan bukan jaminan. Aku tetap perlu mempelajari bahasa ini literally dari nol.
Tidak heran kalau hari-hari awal, materi yang kupelajari adalah belajar membaca huruf, mengeja, berhitung, menulis, dan struktur kalimat yang sangat dasar.
Setelah rehat sejenak dari kursus, aku menikmati waktu yang ada dengan menggambar. Kali ini gambar yang kubuat adalah gambar Ignasius bersama anak-anak. Bukan tanpa alasan. Gambar ini sejatinya menunjuk pada salah satu peristiwa yang ada dalam autobiografi St.Ignasius Loyola.

Belajar di Barcelona
Setelah ditolak tinggal di Yerusalem, Ignasius pun kembali ke negara asalnya, Spanyol. Ignasius pun memutuskan untuk mempelajari lebih dalam iman Katolik. Harapannya, ilmu yang didapatkan dapat dibagikan kepada orang-orang dan membawa mereka semakin dekat pada Tuhan. Dengan istilah yang agak keren, belajar jadi cara buat Ignasius mewujudkan ayudar a las almas (Esp: menyelamatkan jiwa-jiwa). Tapi, sebelum cita-cita mulia itu terwujud, langkah pertama yang harus Ignasius lakukan adalah belajar bahasa, khususnya Bahasa Latin—karena pada Abad 16 semua tulisan maupun bahasa yang secara umum digunakan di dunia pendidikan adalah Bahasa Latin. Bermodalkan keyakinan dan kemauan mengabdi Tuhan, Ignasius mulai belajar bahasa dari nol.
Ia harus masuk kelas dan duduk sebangku dengan anak-anak, yang jauh lebih muda usianya.
Tampaknya sederhana. Tapi inilah bentuk kesungguhan Ignasius untuk mewujudkan mimpinya. Ignasius “sudah selesai dengan dirinya”. Status sebagai Putera Keluarga Loyola, mantan Tentara Spanyol, dan seseorang peziarah yang telah menempuh perjalanan berbahaya ke Tanah suci, bukanlah milik yang mau dipertahankan Ignasius. Status yang seharusnya bisa dibanggakan, ditinggalkan dan ditanggalkan Ignasius sejak di ambang pintu kelas. Ia memasuki kelas dengan menggunakan identitas baru, yaitu sebagai seorang murid biasa, yang mau belajar Bahasa Latin.

Belajar bersama Ignasius
Di hari-hari awal kursus, cukup ribet rasanya ketika mau ngomong satu kalimat tapi harus menentukan genus feminile atau maschile dari sebuah kata. Selain iu, belajar bahasa ternyata juga perlu ketahanan, khususnya biar tidak gampang 'kena mental' ketika tengah-tengah berbicara, ada orang yang mengoreksi dan membenarkan kata-kata yang diucapkan. Maka dari itu, belajar bahasa jadi momen berharga buatku, khususnya buat melatih kemampuan lepas bebas. Dalam bahasa yang lebih umum, lepas bebas berarti sikap buat jadi pribadi yang lebih lentur, adaptif, dan tidak resisten menerima hal baru. Aku belajar untuk mengikuti jejak Ignasius, yaitu dengan rendah hati melepaskan segala hal–kekhawatiran, ketakutan, bahkan zona nyaman—di ambang pintu dan memasuki kelas dengan identitas sebagai murid yang mau belajar bahasa baru.
Personally, aku merasa perlu melatih kemampuan lepas bebas karena tanpanya aku jadi pribadi yang susah move on.
Sikap lepas bebas membuat seseorang akhirnya belajar bahwa bahwa ada bagian dari hidup ini yang tidak bisa dipertahankan dan diikat terus menerus. Dengan melatih sikap lepas bebas, seseorang perlu belajar menerima bahwa situasi, sesuatu, bahkan seseorang di masa lalu perlu perlahan-lahan direlakan. Hanya dengan cara ini, secara perlahan seseorang bisa beradaptasi dengan situasi baru dan mempelajari hal baru. Bermodalkan sikap lepas bebas inilah, seseorang bisa berkembang jadi versi terbaik dirinya.
Tidak ada yang janji bahwa sikap lepas bebas seseorang miliki dalam sekejap, seinstan jentikan jari Thanos dalam film Avengers. Lepas bebas perlu dilatih tahap demi tahap, hari demi hari. Hanya dengan ketekunan semacam inilah seseorang punya cukup keberanian buat keluar dari zona nyaman dan memasuki babak baru dalam hidup yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Di tepi Sungai Tiber, 8 Juli 2023
GASW



Comments