Aquila
- Il pellegrino

- Jan 12, 2024
- 2 min read
Ada memori tersendiri yang muncul ketika mendengar kata “Aquila”. Ini mengingatkan saya pada sebuah majalah bulanan yang dulu (bahkan sampai sekarang) selalu memberikan update mengenai berbagai hal yang terjadi di balik tembok Seminari Menengah Mertoyudan.

Bukan ke majalah, kali ini Aqulia merujuk pada kota kecil yang 1.5 jam perjalanan darat jauhnya dari Roma. Main ke Aquila rasanya seperti masuk ke kota yang vibes-nya ala abad pertengahan. Batu kecokelatan yang menyusun tembok bangunannya dibiarkan terlihat. Tidak dicat dan tidak juga dilapisi dengan semen seperti tembok-tembok bangunan modern. Baik rumah, gereja, maupun gedung-gedung pemerintahan punya corak yang kurang lebih sama. Arsitektur kota ini tetap dipertahankan, bahkan setelah diguncang gempa yang meruntuhkan hampir setiap sudut kota 2009 lalu.
Suhu udara di kota ini juga relatif dingin. Persis karena kota ini dibangun di pegunungan. Kota ini juga relatif sepi. Waktu ke sana, hanya beberapa turis lokal yang tampak mengunjungi Aquila. Buat saya, ini kota yang ideal untuk mengisi kembali social battery yang mulai menyusut setelah hidup sekian waktu di tengah keramaian kota.

Dari setiap sudut kota yang saya kunjungi, ada satu tempat yang paling mengesan. Namanya Rocca Classico. Sesuai dengan namanya, Rocca Classico (bahasa Italia, artinya kastil tua), di tempat memang ada sebuah kastil yang sudah cukup tua. Beberapa bagiannya bahkan sudah berupa reruntuhan. Kastil ini ada di puncak bukit. Lumayan, butuh 1 jam mendaki buat ke sana. Selain lelah, badan juga harus menyesuaikan suhu udara yang makin rendah ketika makin mendekati puncak bukit.
Akan tetapi, rasa lelah pun terbayar lunas ketika mata dimanjakan oleh pemandangan indah. Bukit yang kecoklatan tampak semakin indah saat berpadu dengan warna langit yang biru. Dari sini, tampak jelas pula gunung-gunung yang mengelilingi Rocca Classico dengan puncak-puncaknya yang diselimuti salju. Pemandangan pun semakin indah saat matahari mulai terbenam.

Rasa-rasanya, karena inilah kota kecil ini dinamakan Aquila. Dalam Bahasa Italia, Aquila artinya Rajawali. Kota yang ada di ketinggian memberikan pemandangan yang demikian indah. Setiap orang yang mengunjungi tempat ini diajak untuk “terbang sejenak” dan menikmati keindahan alam yang ada, layaknya sudut pandang seekor Burung Rajawali yang melihat segalanya dari ketinggian.
Dan kadang memang demikian. Yang indah lahir saat sesuatu dilihat dari atas, dari sudut pandang yang membuat sesuatu kelihatan secara keseluruhan…
Di tepi Sungai Tiber, 11 Januari 2024 GASW



Comments