Dalam Senyap
- Il pellegrino

- Jul 20, 2022
- 5 min read
Updated: Aug 7, 2022
Saat itu, suasana Labuan Bajo agak temaram. Asap dari cangkir kopiku masih mengepul tipis ketika aku tengah duduk di sebuah dermaga sambil menikmati matahari yang mulai membenamkan dirinya di ufuk barat. Debur ombak terdengar kian lirih, tanda bahwa air laut kian surut. Sontak, segalanya bergerak kian lama, kian melambat. Dalam ketenangan dan keheningan di hadapan semesta inilah ingatan akan tempat-tempat yang kusinggahi selama berada di Tanah Flores muncul kembali.
Tempat yang mengesankanku justru bukanlah Lamalera, sebuah desa di ujung timur Lewoleba yang termasyur karena tradisi berburu Pausnya. Bukan Kelimutu yang perubahan warna ketiga danaunya sarat misteri dan legenda. Bukan pula Pulau Padar ataupun Pink Beach yang keindahannya membuat pelancong dari negeri seberang rela berlama-lama menghabiskan waktu liburan mereka.
Sebaliknya, tempat yang mengesan buatku adalah dua petak pemakaman kecil yang sempat kukunjungi ketika menjelajahi Tanah Flores. Yup, aku tidak salah tulis. Sekali lagi, pemakaman. Tempat ini cenderung kontras jika dibandingkan dengan beragam destinasi yang telah kusebutkan sebelumnya. Orang bahkan sama sekali tidak tergiur untuk singgah barang sesaat di tempat itu, kecuali ada tujuan khusus yang mengharuskannya. Akan tetapi, di tempat yang tidak wajar inilah aku merasa dapat menimba, mencecap, dan membawa pulang sesuatu.
Dua petak pemakaman tersebut terletak berjauhan, satu di Larantuka dan yang lain di Maumere.
Meskipun demikian, keduanya memiliki tata letak yang sama. Keduanya sama-sama terletak di dekat Gereja Katedral, Katedral Maria Reinha Rosari Larantuka dan Katedral St.Yosef Maumere. Barangkali, tata letak inilah yang menggambarkan pengaruh kental kebudayaan Eropa di Tanah Flores, khususnya Abad Pertengahan, yang menjadikan Gereja sebagai pusat kehidupan bermasyarakat.
Namun demikian, bukan tata letak yang pertama-tama menarik perhatianku. Mereka yang terbaring di kedua tempat inilah yang menarik perhatianku. Kedua pemakaman ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi 17 (tujuh belas) Pater maupun Bruder Serikat Yesus. Beberapa dari mereka ialah Pater Johannes Meijer, SJ, Bruder Antonius van Leeuwenberg, SJ, Pater Huberti van Rijckevorsel, SJ, Pater G.Metz, SJ, dll.
Harus kuakui, nama-nama mereka asing bagiku. Tidak banyak kisah yang kuketahui tentang mereka. Sejarah mungkin tidak banyak mencatat berbagai hal yang telah mereka lakukan. Tidak ada narasi yang baku, yang dapat menjelaskan sepak terjang ketujuhbelas misionaris yang tubuhnya terbaring di Tanah Flores ini. Tidak ada yang tahu pasti, kapan dan untuk apa para Yesuit ini datang ke tanah Flores. Yang tersisa adalah tradisi lisan yang kuperoleh dari penduduk setempat.
Mereka mengatakan bahwa misi Yesuit di Flores harus dibayar mahal karena banyak dari mereka yang baru beberapa bulan datang ke Flores, terjangkit malaria dan meninggal dunia.
Yang tersisa adalah batu-batu nisan yang hampir terkelupas tulisan namanya. Kebanyakan dari mereka wafat di akhir tahun 1800-an dan awal tahun 1900-an. Data historis ini agaknya menggambarkan bahwa para Yesuit pernah hadir dan berkarya di tanah Flores sampai awal abad 20, sebelum akhirnya mencurahkan seluruh konsentrasi misi ke Tanah Jawa. Batu-batu inilah yang menjadi saksi bisu totalitas Pater dan Bruder dalam mengemban tugas perutusan di tanah Flores hingga akhir hayat mereka.
Aku membayangkan, selain makanan dan berbagai perbekalan yang dibutuhkan, ada hal lain yang cukup pasti mereka bawa, yaitu perasaan yang berkecamuk dalam diri para Yesuit yang berasal dari Negeri Kincir Angin ini. Ada keraguan dan harapan yang berjalan beriringan. Para Yesuit ini mungkin ragu karena mereka akan mendatangi tanah yang namanya sendiri belum pernah mereka dengar.
Meskipun demikian, ada sebuah harapan tipis yang ingin mereka wujudkan, yaitu agar kehadiran mereka dapat menjadi sarana bagi Yang Kuasa menyelamatkan jiwa-jiwa.
Dengan langkah-langkah kecil tak mantap, mereka memulai perjalanan. Cukup pasti bahwa ada language dan cultural barier yang mereka alami. Tidak ada sumber sahih yang dapat menyebutkan bagaimana mereka menghadap tantangan tersebut. Hal yang cukup pasti adalah Gereja Katolik berkembang pesat di Flores hingga hari ini. Dalam sebuah acara, sambil mengalihkan pandangan ke arah umat yang hadir, seorang Pastor Paroki Nebe berkata kepada aku dan rombongan, “Romo, Frater, dan Bruder, mereka inilah yang tersisa dari warisan para leluhur Anda, para Yesuit.”

Pengalaman melakukan napak tilas dan berziarah ke makam para Yesuit memberi kesan tersendiri bagiku. Mereka telah mencurahkan seluruh daya upaya hingga akhir hayatnya demi tugas perutusan yang sarat ketidakpastian, sekalipun bukan tanpa harapan. Meskipun demikian, jasa besar yang telah mereka siratkan agaknya hanya dikenang dalam ingatan yang samar-samar. Syukurlah, masih ada tradisi lisan, bangunan, dan batu nisan yang dapat bersaksi bahwa dahulu kala ada sekelompok orang yang datang dari negeri seberang demi menyebarkan Kabar Sukacita ke daerah yang namanya terinspirasi dari bunga warna-warni yang bermekaran, Flores.
Dari para misionaris Yesuit ini aku belajar sesuatu. Hal baik tidak selalu mendapat sorot lampu dan panggung yang memancing decak kagum.
Syukurlah apabila seseorang berbuat baik dan memperoleh tepuk tangan. Namun demikian, lebih sering hal baik itu tidak populer. Seseorang perlu berlapang dada dan belajar rela mewujudkan kebaikan dalam suasana senyap. Bukankah ini juga yang nyata terjadi dan dialami oleh ketujuhbelas Pater dan Bruder Yesuit ini?
Tanpa sadar, permenunganku di pinggir dermaga itu membawaku pada berbagai pertanyaan-pertanyaan yang segera menyeruak dalam benakku. Seperti Pater Johannes Meijer Cs, bersediakah aku pertama-tama memperjuangkan kebaikan daripada ketenaran dan riuh rendah tepuk tangan? Maukah aku berbuat baik, sekalipun itu berarti menapaki sebuah lorong yang sarat kesunyian dan jauh dari popularitas?
Alih-alih sebuah utopia, para misionaris menjadi contoh nyata atas hal ini. Bukan demi dikenang di masa yang akan datang dan popularitas kosong, para misionaris ini telah mempertaruhkan nyawa demi semakin besar kemuliaan nama-Nya. Mereka telah berhasil membuktikan dan membadankan cara hidup yang St.Ignasius sendiri pernah tawarkan, “Teach us to give and not to count the cost..!”
Gagasan di atas, agaknya cukup menantang di hadapan gagasan arus utama yang terjadi di zaman ini. Konteks kemajuan teknologi informasi (yang pada dasarnya hal baik) telah membuat tidak sedikit orang terpelecok dan menyejajarkan popularitas dengan kebaikan.
Populer itu baik. Hal yang baik itu harus populer. Algoritma yang ada, seakan berhasil menginjeksi dalam kesadaran banyak orang bahwa segalanya harus terekspos dan masuk #fyp. Tanpa kemajuan dan ketajaman dalam berefleksi, orang dapat dengan mudah hanyut, percaya, dan tergiur dengan apa saja yang kelihatan instagramable. Tidak buruk. Tapi perlu ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar eye catching, bukan?
Seperti halnya yang telah diteladankan oleh ketujuhbelas misionaris Yesuit tadi, agaknya aku perlu melatih dan mengakrabkan diri dengan jalan yang sarat kesunyian.













Comments