Avec Plaisir
- Il pellegrino

- Aug 15, 2024
- 6 min read
Quand tu dis "Merci", les Toulousains toujours vont répondre "avec plaisir"
Toulouse, mengapa?
Sudah sejak jauh-jauh hari saya berpikir untuk mengisi musim panas ini dengan belajar Bahasa Perancis. Akan tetapi, situasi Paris yang akan ramai dengan Olimpiade membuat saya berpikir-pikir untuk mencari alternatif lain. Sampailah saya pada keputusan untuk tinggal selama beberapa minggu dan belajar Bahasa Perancis di Toulouse. Jujur, saya tidak tahu banyak soal kota ini. Yang saya tahu pabrik salah satu perusahaan pesawat terkenal, Airbus, ada di kota ini. Hanya itu.

Waktu berlalu begitu cepat. Agaknya ini tanda kalau saya cukup menikmati tinggal di kota ini. Tiga puluh menit sebelum saya berangkat ke Bandara Blagnac, saya masih menyempatkan diri buat duduk di tepi Canal du Midi dan menikmati suasana yang ada di sekitarnya. Intensinya sederhana, yaitu untuk berterima kasih kepada kota ini dan berbagai pengalaman yang ada di dalamnya. Tinggal di Toulouse selama lima minggu ternyata memberikan pengalaman lebih dari sekadar belajar bahasa.
Belajar Bahasa Perancis dan Imersi total
"Ce n'est pas facile pour apprendre la Française dans 5 semaines. Alors, probablement, tu peux chercher l'immersion totalement pendant le cours du Française."
Demikian ujar seorang Pater Yesuit asal Perancis ketika saya sendang asyik menikmati Croissant pagi itu. Kata-kata inilah yang jadi pegangan saya selama menjalani kursus bahasa Perancis. Sebisa mungkin mengalami keterpaparan dengan Bahasa Perancis, baik lewat film yang saya tonton, musik yang saya dengarkan maupun topik saat makan bersama di meja makan. Faktanya memang bahasa Perancis bukanlah bahasa yang mudah. Buat mereka yang pernah mempelajari bahasa Eropa lainnya (Latin, Italia, Spanyol, Inggris, dsb), cukup pasti mereka mampu menebak dan mengira-ira gagasan yang ada di balik tulisan berbahasa Perancis. Akan tetapi, dalam ranah verbal, bahasa Perancis punya seni dan kekhasannya tersendiri, baik dalam pengucapan huruf "r", variasi huruf vokalnya (a,i,u,.e,o,oi,eo,dsb), maupun intonasi yang digunakan saat berbicara. Dalam momen tertentu, rasanya saya dihadapkan kembali pada pengalaman belajar bahasa Italia setahun yang lalu. Ada saat saya "ngang-ngong" dan tidak paham apa yang dibicarakan. Ada saat-saat dimana saya ingin ikut masuk dalam sebuah percakapan seru, tetapi tidak punya kosakata yang cukup memadai buat mengkomunikasikan pendapat maupun gagasan yang saya miliki.

Dalam kursus bahasa Perancis, sekelas, kami bersepuluh. Kami berasal dari delapan negara berbeda, Italia, Indonesia, Denmark, Amerika Serikat, Peru, Thailand, Selandia Baru, Brasil, dan Kolombia. Meski berbeda dari segi latar belakang, yang menyatukan kami adalah bahwa kami sama-sama memulai dari "nol" belajar bahasa Perancis. Kami sama-sama memulai dari cara membaca huruf per huruf, kata per kata, dan akhirnya kalimat per kalimat. Kami tidak saling mengenal awalnya. Tapi benar kata orang. Kerap kali berhadapan dengan kesulitan menjadi momen yang menyatukan. Ketika macet, kami saling berbagi pergulatan, "Pure io, non capisco come si fa!", demikian kata seorang teman dari Italia ketika mendengar keluhan saya di tengah-tengah kursus. Saat hendak menanyakan sesuatu dan meminta izin untuk berbicara dalam bahasa Inggris, guru kursus saya selalu berkata dengan nada bercanda, "Bah no..! Je ne comprends pas l'anglais. Je parle seulement la Française." Atau di momen lain, ketika salah satu dari kami mulai berbicara dan tiba-tiba beralih bahasa menjadi Inggris atau Spanyol, guru kami akan berkata, "Non.. Non.. La guillotine est prête pour vous! La francaise s'il vous plait". Suasana kelas pun mendadak diwarnai gelak tawa.

"Petit a petit..,." demikian guru Bahasa Perancis saya katakan dalam suatu kesempatan. Artinya kurang lebih "Sedikit demi sedikit..." Tepat! Bahasa adalah soal pembiasaan dan praktik. Bahasa perlu waktu buat berkembang. Di titik ini, agaknya saya sebagai orang yang tengah belajar bahasa diundang buat punya kesabaran dan kerendahan hati terkait realitas ini. Sekalipun dihadapkan pada berbagai kesulitan yang ada, saya merasa tidak menyesal mengambil keputusan untuk mempelajari bahasa ini. Saya menikmati setiap momen dalam belajar bahasa Perancis. Buah-buahnya baru saya rasakan di hari-hari terakhir dinamika kursus. "Voyez! Dans le premier jour, nous avons commencé avec l'alphabète. Et maintenant, vous pouvez commencer la conversation avec votre camarade" Di titik ini, setidaknya saya dapat menemukan diri yang semakin punya kepercayaan diri buat mulai pembicaraan dalam Bahasa Perancis, terlepas benar atau salah dalam hal gramatika maupun pengucapan katanya. Setidaknya, kursus ini memberi saya modal cukup untuk masuk ke sebuah toko sovenir, membeli beberapa pernak-pernik khas Toulouse, dan mengobrol ringan dengan sang pemilik toko.
Tinggal dan Bersahabat
"Non, Wibi. Tu es aussi la membre de notre communaute. Donc, j'ai un devoir pour t'aider."
Perancis adalah negara kedua yang saya kunjungi setelah Italia. Rasa-rasanya ini jadi kesempatan berharga juga untuk bertemu dan beteman dengan orang-orang baru di tempat ini. Kelompok pertama yang saya jumpai dan karenanya saya bisa berteman baik dengan mereka adalah para Pater Yesuit yang tinggal di Komunitas Rue Monplaisir nomor 6. Di sinilah, untuk pertama kalinya saya bertemu dan tinggal serumah dengan para Yesuit Perancis dan Belgia yang sehari-hari menggunakan bahasa Perancis dalam berkomunikasi. Saya sempat khawatir kalau kehadiran saya di tempat ini akan jadi beban buat mereka. Saya khawatir kalau komunikasi saya terhambat, persis karena saya sama sekali belum bisa berbahasa Perancis. Akan tetapi, hal sebaliknya terjadi. Merekalah yang senantiasa memberi semangat dan dukungan ketika saya mulai kelelahan dalam belajar bahasa Perancis. Merekalah yang selalu menyediakan diri untuk memasak dan memastikan ada makanan untuk saya yang kelelahan kursus bahasa dan kepanasan usai berjalan dari tempat kursus kembali ke komunitas. "Voila...Bienvenue! On va manger, Wibi!", inilah kata-kata yang selalu saya dengar sesampainya di komunitas.

Para Pater Yesuit di tempat ini juga yang selalu menyediakan diri setiap saya membutuhkan bantuan. "Alors, si tu veux, nous pouvons practiquer la conversation demain. Qu-est ce tu dis?", demikian kata seorang Pater yang menawarkan diri untuk jadi tutor saya dalam percakapan bahasa Perancis. Ada rasa takut merepotkan. Ada rasa tidak enak karena bahasa Perancis saya tak kunjung lancar dan masih perlu banyak dibantu. Ini sempat terungkap dan seorang Pater menanggapi, "Non, Wibi. Tu es aussi la membre de notre communaute. Donc, j'ai un devoir pour t'aider." Keterbukaan dan bantuan semacam inilah yang membuat saya nyaman tinggal di komunitas ini. Inilah yang membuat saya datang di konteks dan situasi yang sama sekali baru tidak merasa kesepian dan dibiarkan berjuang sendirian. Saya diterima bukan karena saya bisa ini dan itu. Saya diterima, dibantu, dan dijaga oleh komunitas ini hanya karena saya ada.
Toulouse : La ville rose
Usai tinggal 5 minggu, saya mungkin akan segera memasukkan Toulouse sebagai salah satu kota favorit saya di Eropa. Saya menikmati tinggal di Toulouse, terutama karena kota ini punya ritme hidup yang jauh lebih lengang ketimbang kota besar lainnya. Orang-orangnya ramah dan sangat antusias ketika berbicara dengan orang asing yang tengah belajar berbahasa Perancis. Toulousain, orang-orang yang tinggal di Toulouse sangat menghargai waktu bersama, terutama dengan meluangkan waktu sore hari dan bermain permainan tradisional bernama la pétanque.

Toulouse memang akan kalah terkenal dan gelamor ketimbang Paris. Akan tetapi, Toulouse punya keindahan tersendiri, yang bahkan tidak dimiliki oleh kota sekaliber Paris. Gedung-gedungnya dibangun menggunakan batu-batu bata berwarna oranye kemerah-merahan. Tidak heran jika hal inilah yang membuat Toulouse memiliki julukan sebagai "la vie rose". Bentuk bangunan kota Toulouse yang kental dengan nuansa abad ke 15-16 pun masih dipertahankan. Gang-gang kecil yang ada di sela-sela bangunan inilah yang jadi tempat favorit saya jalan santai sesaat setelah makan malam. Suasananya sunyi, cocok jadi tempat mengendapkan beragam aktivitas yang seharian telah saya lakukan.

Selain bangunan, kota ini juga punya kekhususan lain, yaitu dilalui oleh sebuah kanal yang dibangun pada abad ke 16-17 M, bernama Canal du Midi dan sebuah Sungai besar bernama Sungai Garonne. Keduanya juga jadi tempat favorit saya. Canal du Midi dengan pepohonan dan jalan setapak yang ada di sekitarnya jadi tempat favorit saya untuk jogging setiap akhir pekan. Tepi Sungai Garonne, terutama yang berada tidak jauh dair Ponte Neuf juga jadi tempat favorit saya untuk duduk sejenak atau jalan santai di sekitarnya sambil menikmati matahari tenggelam. Dari tempat ini, warna lembayung senjak tampak serasi ketika berpadu dengan lampu-lampu yang menerangi bangunan di sekitar bantaran sungai.
Akhirnya...



Comments