top of page

Magis Camp

  • Writer: Il pellegrino
    Il pellegrino
  • Aug 5, 2025
  • 3 min read

Di akhir keterlibatan sebagai voluntir bersama dalam Magis Camp, kami diajak untuk melakukan rekoleksi singkat, terutama atas apa yang telah kami. Di momen pengendapan inilah kami diajak untuk menemukan beberapa hal yang patut kami syukuri dalam kurun waktu 27 Juli-1 Agustus, khususnya sejak momen persiapan hingga berakhirnya momen untuk menjadi voluntir dalam Magis Camp tahun ini. Dari sekian banyak hal yang kutemukan, aku tertarik pada pengalaman yang menurutku cukup mengesan buatku.


La Buona Malatia

              Pertama, sebagai bagian dari kelompok Pietre Vive dalam acara Yubelium Orang Muda, kami memiliki tugas utama untuk menjelaskan beberapa bagian penting dari tempat-tempat yang cukup berarti bagi Serikat, seperti Gereja Gesù, Gereja Santo Ignasius, Gereja Santo Andrea al Quirinale, maupun Kamar Santo Ignasius. Kami harus mengikuti sebuah workshop kecil sebagai bekal agar kami mampu memberikan penjelasan yang layak kepada para peziarah yang datang berkunjung.

              Bahkan bagi diriku yang cukup sering mengunjungi Gereja Gesù—entah hanya untuk duduk sejenak atau mengikuti Perayaan Ekaristi—aku harus mengakui bahwa aku belum benar-benar mengenal gereja ini. Begitu banyak detail yang sebelumnya terlewatkan, terutama terkait berbagai karya seni yang ada di dalamnya. Pengalaman ini menyadarkan bahwa setiap karya seni tidak pernah dibuat tanpa alasan. Selalu ada kedalaman makna yang ingin dikomunikasikan oleh sang pematung, pelukis, atau seniman lainnya—makna yang bahkan melampaui hasil karya itu sendiri.

              Pengalaman terlibat sebagai anggota Pietre Vive ternyata turut mengubah cara pandangku setiap kali memasuki sebuah gereja. Aku tidak lagi bisa menahan diri untuk tidak memunculkan beragam pertanyaan setiap kali melihat sudut-sudut gereja—entah mengenai struktur bangunannya, latar belakang historis di balik pembangunannya, corak karya seni yang ditonjolkan, hingga pokok ajaran iman yang hendak disampaikan kepada mereka yang singgah di dalamnya.

              Lebih dalam lagi, kekayaan artistik yang terdapat di dalam gereja akhirnya menjadi pintu bagi siapa pun yang mengamatinya untuk masuk ke dalam relung terdalam dirinya, dan mengalami perjumpaan pribadi dengan Sang Pencipta dalam doa. Dengan nada bercanda, seorang teman yang telah lama menjadi anggota Pietre Vive berkata, “Auguri, Wibi. Sei stato infettato dalla Buona Malattia come noi!”



Il servizio che porta l'amicizia

              Kedua, pengalaman melakukan pelayanan bersama kelompok Magis EUM dan Pietre Vive membawaku pada perasaan syukur yang mendalam. Ini adalah pengalaman pertamaku terlibat dalam acara Summer Camp seperti ini. Ada berbagai perjumpaan yang secara personal membuatku tertarik. Latar belakang kami sangat beragam, bahkan di antara sesama orang Italia sekalipun. Namun hanya satu hal yang menyatukan kami dalam hari-hari ini, yaitu keinginan untuk membantu para peziarah yang datang, khususnya mereka yang mengikuti perayaan Yubelium Orang Muda.

              Rutinitas yang kami jalani lambat laun menjadi momentum yang menyatukan: mulai dari sesi formasi, belajar bersama tentang Gereja Gesù, hingga akhirnya menjadi pemandu bagi para peziarah yang singgah berkunjung. Kebersamaan kami tidak hanya terjalin dalam momen-momen resmi, tetapi juga dalam waktu-waktu santai—saat kami duduk bersama ditemani secangkir kopi, saat bersembunyi dari teriknya matahari di bawah bayang-bayang bangunan di kota Roma sambil menikmati gelato yang dijajakan di sepanjang Via Vittorio Emanuele. Kebersamaan inilah yang menjadi ruang bagi kami untuk saling bertukar cerita dan pengalaman—tentang latar sosial-budaya, keluarga, hingga perjalanan pribadi kami untuk akhirnya beriman kembali kepada Allah.

              Kebersamaan dan kedalaman agaknya menjadi dua kata kunci yang merangkum dinamika hari-hari ini. Melalui keduanya, perbedaan yang ada di antara kami dapat terjembatani dan digantikan oleh ikatan baru dalam bingkai persahabatan. Maka tak heran, ada perasaan gamang saat harus mempersiapkan diri untuk berpamitan lebih awal, terutama setelah sebelumnya kami makan malam bersama di Da Bucatino dan menutupnya dengan gelato di Piazza Testaccio. Ada rasa enggan untuk berpisah dengan mereka, yang selama beberapa hari ini hadir sebagai pribadi yang hangat dan bersahabat. Namun pesan-pesan yang mereka sampaikan seperti, “Se passi accanto a Milano, facci sapere!”, “Ci vediamo un’altra volta a Roma!”, atau “Vieni a Napoli e ti faccio da guida per la chiesa e la città!” justru menjadi penghiburan dan peneguhan tersendiri bahwa ini perjumpaan kami akan berlanjut di masa depan. Ite missa est...

              Akhirnya, seperti pesan Paus Leo, Yubelium Orang Muda bukanlah perayaan yang selesai begitu saja, melainkan panggilan untuk dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap pribadi diutus menjadi misionaris harapan dan mewartakan Kristus kepada siapa pun yang mereka jumpai—terutama mereka yang kehilangan harapan. Hal ini sangat selaras dengan semangat Latihan Rohani Ignasius, yang ditutup dengan Kontemplasi untuk Mendapatkan Cinta—agar rahmat yang ditemukan selama retret tidak berhenti di ruang doa, tetapi dibawa masuk ke dalam hidup harian. Demikian pula Yubelium ini menjadi pintu bagiku untuk kembali masuk dalam dinamika hidup sehari-hari, terutama dalam menemukan jejak-jejak kehadiran Allah—baik melalui kekayaan seni yang dimiliki Gereja, maupun dalam perjumpaan dengan orang-orang baru yang telah, sedang, dan akan kutemui. AMDG           

 
 
 

Comments


bottom of page