top of page

Napak Tilas

  • Writer: Il pellegrino
    Il pellegrino
  • Jul 31, 2024
  • 5 min read

Updated: Jul 31, 2024

Beberapa waktu yang lalu, saya menyempatkan diri untuk main ke Paris. Pikir saya, mumpung sedang di Perancis, rasanya belum afdol kalo belum main ke Paris. Intensi saya ke Paris waktu itu pertama-tama adalah untuk mengunjungi seorang teman yang juga sedang belajar di sana sekaligus melihat Paris yang tengah sibuk mempersiapkan Olimpiade 2024. Pembatasan kunjungan di beberapa tempat ikonik di kota ini, justru membawa saya pada alternatif lain untuk menikmati Paris, yaitu untuk napak tilas ke tempat-tempat yang punya peran penting bagi perjalanan hidup Santo Ignatius Loyola.


Rue de Saint Jacques-Quartier Latin

Jalan ini letaknya tidak jauh dari Pantheon-Sorbonne. Sekilas, ini sekadar jalan pada umumnya di kota Paris, yang membatasi gedung satu dengan gedung lainnya. Akan tetapi, di jalan inilah Ignasius konon tiba untuk pertama kalinya di Paris dari Barcelona dengan berjalan kaki, tepatnya pada tahun 1528.


Sejak lama, Jalan Saint Jacques ini dikenal sebagai pusat perkembangan filsafat, teologi, dan ilmu humaniora lainnya, persis karena di tempat ini ada institusi pendidikan terkenal pada zamannya bernama l’Universite de Paris, atau lebih dikenal dengan nama Sorbonne. Nama Universitas Paris harum, tidak hanya di kalangan orang Perancis pada masa itu, melainkan juga di wilayah Eropa kala itu. Pada periode tersebut, bahasa yang secara resmi digunakan oleh para akademisi di tempat ini adalah Bahasa Latin.


Bahasa ini pada akhirnya digunakan baik di dalam forum resmi perkuliahan maupun ketika terjadi diskusi di luar kampus. Hal inilah yang membuat Bahasa Latin menjadi bahasa yang demikian umum dan berkembang pesat di sekitar kampus. Itu makannya, sampai hari ini, tempat di sekitar Rue de Saint Jacques ini bernama Quartier Latin (Distrik Latin). 
  
College de Montaigu-College St.Barbe
Ignasius akhirnya memulai dinamika studinya di Paris. Sebagai mahasiswa baru, hal pertama yang Ignasius lakukan adalah belajar Bahasa Latin di College de Montaigu selama satu tahun. Seiring berjalannya waktu, terutama dengan adanya Revolusi Perancis, bangunan ini telah beralihfungsi menjadi Perpustakaan Santa Geneva. Yang menarik, fasad (bagian depan) ini, dituliskan 810 nama yang memiliki kontribusi bagi dunia. Ada nama tokoh besar seperti Musa, Horace, Seneca, St.Paulus, Marcus Aurelius, Arius, St.Agustinus, Copernicus, Petrarca, hingga tokoh-tokoh politik seperti J.J Rousseau, Montesquieu, Shakespeare dan Voltaire.


Yang menarik, dalam daftar ini, ada juga nama St.Ignatius Loyola, yang dituliskan berdekatan dengan nama tokoh gerakan reformasi bernama Jean Calvin. Keduanya hidup di lingkungan (Quartier Latin) yang sama dan periode waktu yang sama, Dua tokoh besar ini juga kelak yang akan mereformasi Gereja, sekalipun menggunakan cara yang sama sekali berbeda.  
Pada musim panas tahun 1529, Ignasius pindah ke Collège Sainte-Barbe (Kolese Santa Barbara). Letaknya hanya beberapa blok dari Collège de Montaigu. Di kolese inilah Ignasius berhasil meraih gelar Baccalaureate, Licenciat, dan Master.


Hal perlu dicatat adalah di kolese ini pula Ignasius menjalin persahabatan dengan dua orang yang tinggal sekamar dengannya. Satu orang Portugal, lainnya orang Savoya. Mereka adalah Fransiskus Xaverius dan Petrus Faber. Dua sahabat pertama Ignasius inilah yang nanti juga akan menjadi teman seperjalanan Ignasius. Meski keduanya punya kepribadian yang sama sekali berbeda, sampai pada titik tertentu, keduanya dapat menemukan visi yang sama. Seperti halnya Ignasius, keduanya mau menyediakan diri untuk mengabdi Allah dan menyelamatkan jiwa-jiwa. Circle pertemanan Ignasius pun semakin besar. Ada orang lain yang ikut bergabung dalam kelompok ini, yaitu Diego Laynez, Nicolaus Bobadilla, Alfonsus Salmeron, dan Simon Rodriguez. Kelompok inilah yang nantinya, selain mendedikasin waktu yang dalam dinamika studi, juga menyediakan diri untuk melayani dan merawat orang sakit yang tinggal di hospital yang ada di sekitar kota Paris dan mengajarkan iman kepada orang-orang sederhana.

Kaul Montmartre

Kesatuan Ignasius dan keenam temannya semakin kuat. Pada Paskah tahun 1534, ketujuhnya berdiskusi untuk menentukan kemana dan mau apa mereka sebagai kelompok. Ada beberapa gagasan yang muncul dari diskusi ketujuhnya. Pada mulanya, mereka ingin mendedikasikan 3 tahun lagi untuk mengambil studi teologi tanpa mengubah apapun dalam cara hidup mereka.
Mereka pun sampai pada keputusan untuk mengucapkan kaul kemiskinan, kaul kemurnian, dan berjanji untuk berziarah ke Yerusalem. Jika berhasil kembali dari Yerusalem (terutama karena situasi keamanan yang tidak menentu waktu itu), mereka akan mendedikasikan diri dalam pengajaran iman dan dalam pelayanan sakramen. Akan tetapi, jika rencana mereka berziarah gagal, mereka akan berjalan ke Roma, menyerahkan diri kepada Paus, dan menerima setiap perutusan yang diberikan Paus kepada mereka. Komitmen mereka sebagai kelompok pun diteguhkan dengan peristiwa pengucapan kaul di sebuah kecil yang ada di sebuah bukit, yang tidak jauh dari kota Paris. Namanya Montmartre.
Sampai hari ini, kapel ini masih ada. Meskipun demikian, pintu masuknya agak tersembunyi. Dan sampai hari ini orang dapat membaca sejarah dari kapel ini dipelakat yang terpasang di dekat pintu masuk. Jauh sebelum dipilih oleh Ignasius dan kawan-kawannya untuk mengikrarkan kaul, kapel ini di kenal karena konon menjadi tempat kemartiran Santo Denis, uskup pertama Paris pada Abad kedua. Berkat kemartiran Santo Denislah sejatinya lahir nama Montmartre (Mont : gunung/bukit, martre: martir) yang kemudian diperluas penggunaannya untuk menamakan daerah di sekitar kapel tersebut.


Setelah 14 Abad berlalu, tempat ini menjadi tempat terjadinya peristiwa penting ketika Ignasius dan kawan-kawannya mengucapkan kaul dalam perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Fransiskus Xaverius, yang saat itu sudah ditahbiskan sebagai imam. Peristiwa ini terjadi pada 15 Agustus 1534 dan dikenal sebagai peristiwa Kaul Montmartre.

Studi dan Persahabatan

Menapaki lagi perjalanan Santo Ignasius di Paris membawa saya pada kesadaran akan dua hal. Pertama, komitmen Ignasius untuk mengabdi Allah dan menyelamatkan jiwa-jiwa tidak hanya berhenti sebagai sebuah dambaan suci. Sebaliknya, hal tersebut didaginkan dalam tindakan konkret bernama studi. Dibandingkan perjalanan hidup Ignasius di periode sebelumnya (canonball moment di Pampelona dan upaya Ignasius untuk tinggal di Yerusalem), momen studi Paris agaknya jauh dari kata dramatis dan heroik. Dengan memilih masuk dalam dinamika studi (terutama dengan usianya yang tidak muda lagi), Ignasius tengah menyediakan diri untuk memasuki kemartiran intelektual yang sarat kesunyian.

Alih-alih berorientasi pada sanjungan dan tepuk tangan, dengan memasuki studi, Ignasius memasuki momen dialog batin antara diri sendiri, ilmu pengetahuan yang dialami, dan Allah sendiri yang hendak ia abdi. Dan self-image Ignasius yang ada di Paris inilah yang agaknya "berbicara banyak" ketika ditatapkan dengan situasi aktual yang sedang saya jalani hari-hari ini dalam dinamika studi.

Kedua, selama di Paris, selain studi, Ignasius juga mencari teman. Dari 3 orang, circle Ignasius berkembang menjadi 7 orang demikian seterusnya hingga lahirlah sebuah kelompok bernama Serikat Yesus. Sejak awal, Ignasius membangun circle. Adapun kelompok yang Ignasius dirikan sejak awal adalah kelompok yang majemuk, baik dalam hal usia, kebangsaan, status sosial, dsb.
Yang menarik, di tengah kemajemukan yang ada, sampai pada titik tertentu, mereka bisa sepakat dan memiliki visi yang sama. Realitas historis ini agaknya cukup kuat untuk mementahkan anggapan umum bahwa seorang Yesuit adalah seorang single fighter. Sebaliknya, setiap Yesuit dipanggil untuk membangun persahabatan yang dengan orang lain, baik Yesuit maupun non-Yesuit. Seperti halnya Ignasius membutuhkan sosok seperti Xaverius, Faber, Lainez, Bobadila, Salmeron, dan Simon Rodriguez, seorang Yesuit juga membutuhkan orang lain yang dapat menjadi tempatnya berbagi pandangan sekaligus menjadi teman seperjalanan.



Toulouse, 31 Juli 2024
GASW



 
 
 

Comments


bottom of page