La maratona di Roma
- Il pellegrino

- Apr 1, 2025
- 6 min read
Maraton kemarin adalah Maraton pertama yang saya ikuti. Kalau ditelisik ke belakang, sebenarnya keikutsertaan saya dalam Maraton berawal dari celetukan seorang teman, “Mau lari Maraton bareng tahun depan, Wib? Maraton ini bakal bertepatan dengan Tahun Yubelium!” Singkat cerita, saya pun mendaftarkan diri.
Sejak saat itu, tepatnya bulan Juli 2024 saya pun mulai menekuni kebiasaan berlari. Dari 3 Km, jarak yang ada bertambah menjadi, 5, 10, dan 15 km. Pelan tapi pasti, lari juga menjadi agenda rutin yang saya lakukan setiap 2 hari. Sabtu pagi pun selalu terisi dengan agenda senada, yaitu berlari dengan jarak yang agak lebih panjang dari biasanya, 21 km atau agak lebih (sedikit).

Jika cuaca baik, jogging akan jadi aktivitas yang menyenangkan. Akan tetapi, ketika cuaca cenderung dingin atau bahkan hujan deras, jogging akan cenderung jadi aktivitas yang berat bahkan cenderung “kurang kerjaan”. Ini semakin menarik ketika fisik ada dalam situasi yang kurang baik, entah karena cidera atau karena flu musiman yang mendera ketika pergantian musim terjadi.
Minggu, 16 Maret 2025
Dan akhirnya, tibalah hari yang dinanti. Akan tetapi, sehari sebelum Maraton diselenggarakan, panitia mengadakan misa bersama untuk seluruh Atlet yang hendak berpartisipasi esok harinya. Bagi saya ini menarik. Selain jadi momen untuk berdoa bersama, Perayaan Ekaristi ini menjadi demikian istimewa karena sebelum berkat penutup, kami yang hendak berlari, diundang mendekat ke arah altar, mendakan “La preghiera della maratoneta” dan menerima berkat dari Uskup yang memimpin perayaan ekaristi hari itu. “Jadikan kegiatan berlari Anda sekalian sebagai kesempatan untuk menemukan kehadiran Tuhan…” demikian pesan beliau sebelum memberikan berkat penutup.

Persiapan yang dilakukan sekian bulan, akhirnya diuji di tanggal 16 Maret 2025 dalam Roma Maraton. Sejujurnya, ada keraguan tersendiri ketika hendak memulai, selain karena ini Maraton pertama, beberapa hari sebelum Maraton dimulai saya kesulitan tidur. Persis mungkin karena khawatir atas hari ini. Akan tetapi, kekhawatiran agaknya tidak akan reda jika tidak dengan lapang dada dihadapkan pada hal yang dikhawatirkan. Maka dari itu, tepat pukul 06.45, saya dan dua orang teman lainnya bergegas meninggalkan Collegio dan berjalan ke arah Circo Massimo, titik dimulainya Maraton.

Setelah menanti dalam udara yang cukup dingin dan berdesak-desakkan dengan 21.000 pelari lainnya, akhirnya kaki saya terayun dan mulai berlari. Target lari hari ini hanya satu, yaitu menyelesaikan Maraton dan pulang dengan sehat. Pelan tapi pasti, saya mulai mengatur ritme nafas, posisi tubuh dalam berlari, dan kecepatan. Alih-alih tergoda untuk berlari cepat, saya berusaha untuk lari dengan konsistensi dan membiarkan diri menikmati suasana sekaligus berbagai sensasi yang muncul selama berlari. Kilometer ke-6 terlampaui dan perut mulai minta diisi. Seperti biasa, saya akan segera mengambil kurma yang selalu jadi bekal dalam berlari. Di saat yang sama, saya pasti akan segera mengambil gelas-gelas air yang telah disediakan oleh panitia di beberapa lokasi yang para pelari lewati. Dan demikianlah ritme ini berulang di kilometer-kilometer selanjutnya.
Waktu menunjukkan pukul 11.00 ketika saya sampai di kilometer 21. Menariknya, tidak lama kemudian, hujan turun bersama dengan angin yang cukup kencang. Cuaca yang awalnya panas terik, tiba-tiba saja berubah. Dengan tubuh yang basah kuyup, ayunan langkah kaki jadi sedikit lebih berat. Ternyata bukan saya saja. Tidak sedikit dari para pelari yang akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki. Melihat suasana ini, ditambah dengan tubuh yang mulai terasa lelah, saya cukup kena mental. Rasanya ingin sekali berjalan dan mengambil waktu sejenak beristirahat, sekalipun saya tahu ini akan menurunkan stamina saya. Akan tetapi, niat ini saya urungkan. Saya pun memutuskan untuk berlari dengan sisa tenaga yang ada.

Beberapa kilometer selanjutnya, tepatnya di kilometer 32, energi saya mulai menyusut secara signifikan. Dan inilah jarak terjauh yang pernah saya lakukan selama waktu persiapan. Saya belum pernah berlari lebih dari 32 kilometer. Itu makanya, beberapa saat setelah melintasi papan petunjuk yang bertuliskan km 32, saya segera berdoa dalam hati dan berkata, “Tuhan, Engkau tahu bahwa inilah jarak terjauh yang pernah saya tempuh. Karena itu, di kilometer yang akan datang, saya mohon rahmat-Mu...” Selepas doa singkat ini, yang bisa saya lakukan hanyalah menjaga agar kecepatan tetap konsisten (agar kaki saya terhindar dari cidera) sembari meyakinkan diri bahwa rahmat Tuhan menyertai.

Jarak menunjukkan kilometer 40. Saya berlari tidak jauh dari Chiesa del Gesu, tempat saya tinggal. Ini menggembirakan karena berarti Circo Massimo, tempat berakhirnya Maraton, tidak jauh lagi. Perjalanan panjang ini akan segera usai. Rasa gembira ini makin terasa ketika saya mendapati beberapa teman sekomunitas yang memberikan dukungan, tepat ketika saya melintasi Piazza del Gesù, sambil berteriak, “Forza, Wibi!”. Dan setelah melewati sebuah tanjakan kecil di dekat Piazza Venezia dan turunan di dekat Teatro Marcello, akhirnya saya sampai di Circo Massimo, garis akhir Roma Maraton. Tersentuh, terharu, dan gembira. Tiga perasaan ini yang dominan menyeruak di dalam batin saya. Sukacita ini bertambah ketika di garis finish, sudah ada 3 teman sekomunitas yang menyambut saya dengan jabat tangan dan pelukan. “Sei veramente coraggioso, caro! Siamo orgogliosi di te!” (Kamu pemberani! Kami bangga!)
Yang melekat seusai garis finish

Ketekunan dan daya tahan. Modal utama Maraton, bukan pertama-tama kecepatan. Akan tetapi, daya tahan untuk bisa berlari sejauh 42,195 km. Ini hanya mungkin dicapai jika jauh-jauh hari sebelumnya, seseorang tekun dalam latihan yang dilakukan secara teratur, hari demi hari, kilometer demi kilometer. Cukup pasti ada rasa lelah dan jengah selama latihan panjang ini. Akan tetapi, tidak ada cara lain selain membiarkan diri seseorang terbiasa memeluk kedua perasaan tersebut. Hal ini agaknya senada dengan filosofi kata “latihan” dalam Latihan Rohani. Di bagian awal Latihan Rohani, St.Ignasius menuliskan demikian.
Yang dimaksud dengan kata latihan rohani ialah setiap cara memeriksa hati, meditasi, kontemplasi, doa lisan dan batin, serta segala kegiatan rohani lainnya, yang akan dikatakan kemudian. Sebagaimana gerak jalan, jarak dekat atau jarak jauh dan lari-lari disebut latihan jasmani, begitu pula dinamakan latihan rohani setiap cara untuk melepaskan diri dari segala rasa lekat tak teratur, dan selepasnya dari itu, lalu mencari dan menemukan kehendak Allah dalam hidup nyata guna keselamatan jiwa kita. (Latihan Rohani No.1)
St.Ignasius menggunakan analogi olahraga untuk menjelaskan pentingnya latihan. Seperti halnya dalam olahraga, seseorang yang mendambakan kematangan dan kedalaman relasi dengan Tuhan pun perlu menceburkan diri dalam dinamika latihan rohani. Ini pun mengandaikan adanya ketekunan dan daya tahan yang hidup dalam diri seseorang.

Mengenal diri. Maraton, selain menjadi ajang untuk melatih diri, juga menjadi ajang untuk belajar mengenal sekaligus menghargai diri sendiri. Rutinitas latihan membawa saya pada batas diri, entah itu namanya cuaca yang terlalu ekstrem, medan yang jauh dari kata ideal (penuh turis, jalanan Roma yang tidak rata, dsb), maupun situasi fisik dan batin yang sedang tidak baik. Di titik ini, saya harus dengan lapang dada memutuskan untuk skip dari rutinitas lari hari itu. Persis di titik inilah saya belajar artinya untuk mengatakan cukup pada diri. Di hadapan batas yang tidak masuk akal untuk dilampaui, berhenti kadang jadi keputusan yang layak untuk diambil. Di sisi lain, maraton dan latihan-latihannya juga menjadi momen untuk memiliki pengenalan diri yang lebih menyeluruh. Ada potensi dan kemampuan yang selama ini tertidur, yang tiba-tiba membuncah keluar. Sejatinya, antara saya dan olahraga belum lama kami berkawan. Memori saya dengan aktivitas bernama olahraga ini didominasi oleh pengalaman kurang menyenangkan. Waktu kecil, setiap habis bermain sepak bola, besoknya pasti saya demam karena kelelahan. Setiap habis bersepeda dengan teman-teman, pasti saya pulang dengan membawa oleh-oleh berupa lecet di jari kaki atau lebam di bagian lutut karena terjatuh. Dan setelah Maraton kemarin, saya makin menyadari bahwa saya lebih kuat dari yang saya bayangkan sebelumnya.




Comments