Belajar di Rumah Lebah
- Il pellegrino

- Jan 25, 2023
- 7 min read
Memories follow me left and right
I can feel you over here, I can feel you over here
You take up every corner of my mind
Your love stays with me day and night
I can feel you over here, I can feel you over here
You take up every corner of my mind
Lagu berjudul “Left and right” yang dinyanyikan Charlie Puth dan Jung Kook BTS ini, ternyata sedang happening. Video klip lagu yang dirilis 24 Juni 2022 ini saja telah diputar 288 juta kali di platform Youtube. Karakter sound effect yang unik di bagian refrain lagu ini memang unik. Di sisi lain, syair dalam lagu ini juga sarat makna.
Jika ditelisik baris demi baris liriknya, Charlie Puth mengundang para pendengarnya untuk mengimajinasikan perasaan seseorang yang tengah dimabuk asmara. Rasa cinta itu demikian dalam. Dalam benak seseorang pun hanya ada sosok yang dicintai semata. Ketika keduanya tidak sedang bersama, rasa cinta itu membuncah bahkan berubah menjadi rasa rindu karena ingin segera bertemu. Kerinduan itu demikian kuat sehingga bayang-bayang sosok yang dicintai terus bergelayutan dalam pikiran dan benak seseorang. “I can feel you over here, I can feel you over here. You take up every corner of my mind.” Poinnya jelas. Jatuh cinta membuat orang lupa akan segalanya karena yang diingatnya hanya “dia”.

Jatuh cinta. Mungkin ini pula kata kunci yang dapat mewakili dinamika yang dialami kelas XII IPA 1 dan kelas XII lainnya pada 10-13 Januari 2023 lalu, yaitu retret. Di satu sisi, retret menjadi kesempatan untuk sejenak mengambil jarak dari segala kesibukan. Di sisi lain, retret juga menjadi kesempatan bagi seseorang untuk mengalami kembali perasaan jatuh cinta. Seseorang diundang untuk jatuh cinta dan mampu memberikan apresiasi pada dirinya, karena telah berjuang sampai sejauh ini. Seseorang pun diundang untuk jatuh cinta pada setiap pribadi yang telah menemani perjalanan hidupnya, yang bahkan tidak selalu disadari kehadirannya. Akhirnya, melalui retret, seseorang juga diundang untuk jatuh cinta pada Tuhannya, yang telah memastikan perjalanan yang selama 17-18 tahun seseorang jalani baik-baik saja.
Into the Unknown
Selamat retret berlangsung, ada salah satu dinamika yang menarik perhatianku. Dinamikanya terjadi pada hari kedua. Berbekal uang Rp 5.000, anak-anak diutus berpasangan, keluar dari rumah retret sejak pukul 9 pagi. Mereka harus bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan mereka untuk makan siang. Adapun mereka diperbolehkan kembali ke rumah retret, paling awal pukul 16.00.
Ketika mulai melangkahkan kaki keluar rumah retret, raut wajah cemas bercampur semangat terpancar dalam diri mereka. Barangkali, ada kekhawatiran karena tidak tahu kemana mereka harus melangkahkan kaki. Ada kegelisahan tersendiri mengenai apa yang nantinya akan mereka kerjakan dan apa yang akan mereka makan. Meskipun demikian, kekhawatiran ternyata berjalan bersandingan dengan semangat karena tak sabar menyongsong pengalaman baru yang menanti di hadapan mereka.

Sejatinya, tersembul kegelisahan karena 30 anak-anak ini dilepaskan dan dibiarkan berjuang sendirian. Aku pun memutuskan untuk menunggu kedatangan mereka di depan gerbang rumah retret, bahkan sejak pukul 15.40. Kegelisahan demikian berkecamuk karena anak-anak tak kunjung kelihatan. Aku akhirnya merasa lega karena dari kejauhan, langkah kecil kaki anak-anak mulai kelihatan. Satu persatu anak-anak pulang. Ada yang pulang sambil membawa tentengan durian, wajah letih, dan kulit memerah karena terbakar matahari. Namun demikian, yang lebih perlu disyukuri adalah anak-anak pulang sambil membawa cerita serta pembelajaran bahwa berjuang mencari pekerjaan demi sesuap nasi itu tidak mudah. Mereka harus bekerja keras karena upah yang didapatkan tidak selalu sesuai harapan.
Lebih dalam lagi, mereka sampai pada kesadaran bahwa dalam keadaan yang paling tidak mudah sekalipun, ada banyak orang baik yang peduli. Dalam kesendirian yang mereka alami, ternyata ada sosok-sosok yang berkenan menjadi penolong bagi mereka.
Secara personal, pengalaman yang dialami anak-anak ternyata beresonansi pada diriku. Berhadapan dengan ketidakpastian itu tidak mudah. Itulah mengapa, ketidakpastian selalu identik dengan kegelisahan. Jika mungkin, aku ingin agar segala hal yang kujalani senantiasa jelas, baik tujuannya maupun cara untuk mencapai tujuan tersebut. Namun demikian, tidak segalanya jelas dan gamblang. Kadangkala, seseorang dipaksa untuk berjalan di area abu-abu, yang tidak putih tapi juga tidak hitam.

Maka dari itu, aku ketika berjalan dalam ketidakpastian seperti saat anak-anak bekerja untuk mencari makan, aku merasa diundang untuk mengambil sikap seperti mereka. Alih-alih berfokus pada kegelisahannya, seperti anak-anak, aku merasa diundang untuk memupuk perasaan excited di hadapan ketidakpastian yang ada. Alih-alih menghindarinya, aku merasa diundang untuk menyongsong setiap kejutan yang akan kuterima di hadapan sebuah jalan yang sarat ketidakpastian. Dengan kata lain, di hadapan ketidakpastian, aku diundang untuk memiliki sikap berserah dan beriman yang semakin mendalam serta total kepada Tuhan sendiri.
Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
Sekalipun harus dimulai dengan langkah-langkah kecil tak mantap, aku diundang untuk meyakini bahwa Tuhan senantiasa menjaga dan menampakkan wajah-Nya, bahkan dengan cara yang tidak diduga.
Periuk yang Dibentuk
Dinamika yang juga menarik perhatianku dalam retret ini adalah proses menggambar simbol diri. Dengan berpedoman pada GPS Kehidupan—grafik yang menggambarkan ups and downs perjalanan hidup—anak-anak berproses untuk melihat kembali hidup mereka, memotretnya, dan menggambarkannya dalam bentuk simbol tertentu. Berbekal cat air yang ada, anak-anak mulai menggambar. Selanjutnya, simbol tersebut mereka refleksikan dan jelaskan dalam sebuah tulisan singkat. Dalam waktu singkat, tembok ruang pertemuan pun dipenuhi oleh warna-warni gambar dengan berbagai bentuk dan simbol.
Alih-alih berhenti pada sebuah aktivitas fisik, ternyata pengenalan anak-anak atas dirinya makin dalam. Dengan menggambar simbol dan merefleksikannya, ternyata kedalaman anak-anak turut tergarap. Dari gambar yang ada, terungkap akan ada kesepian yang kerap kali dialami sekaligus enggan untuk diakui. Dari gambar yang ada pula, terungkap pula dilema antara ingin membahagiakan orangtua dan mengikuti kata hatinya. Akhirnya, dari gambar yang ada, terungkap pula mimpi-mimpi besar yang sejatinya ingin diwujudkan namun kerap berhadapan dengan tembok bernama keraguan.
Di hadapan anak-anak yang berproses membuat simbol diri ada pertanyaan yang secara spontan terlintas dalam benakku. Jika anak-anak mampu menggambar dan menunjukkan simbol yang “gue banget”, lalu apa simbol diriku saat ini? Aku akan memilih periuk. Seperti sebuah periuk, aku merasa diri dibentuk. Di tangan seorang tukang periuk, sebongkah tanah liat yang hanya jadi alas berpijak, dibentuk, dijemur dan dibakar agar menjadi periuk yang indah. Alih-alih proses yang sekali jadi, ada kalanya sebuah periuk yang indah pecah. Oleh karenanya, ia harus dihancurkan, dihaluskan dan dibentuk ulang sesuai kebutuhan.
Sang Tukang Periuk telah berhasil membentukku, sebongkah tanah liat yang semula hanya jadi tumpuan seseorang menapakkan kaki, menjadi sebuah periuk. Ada banyak pengalaman yang berhasil membanting, menghancurkan, dan melumatkan idealisme yang agaknya terlalu usang untuk dipegang.
Oleh banyak pengalaman yang kualami, terutama di SMA Gonzaga, aku merasa dibentuk ulang oleh Sang Tukang Periuk. Jika bisa memilih, aku akan lebih mengambil sepeda dan berkelana entah kemana.
Namun demikian, karena satu dan lain hal, aku akhirnya harus terpaku di ruang kerja sambil menantikan anak-anak yang datang, mulai dari sekadar meminta permen hingga meminta untuk didengarkan ceritanya. Alih-alih menghabiskannya sendiri, pelan tapi pasti, aku dibentuk menjadi pribadi yang murah hati memberikan sesuatu yang paling berharga dan tidak dapat diminta kembali, yaitu waktu. Aku yang semula dapat menutup mata dan menganggap semuanya baik-baik saja, kini harus membuka mata lebar-lebar karena sadar bahwa semuanya tidak harus baik-baik saja.
The Bee House…
Pada hari terakhir retret, anak-anak diundang untuk membuat sebuah final project. Proses diawali dengan adanya forum kelas untuk menentukan komitmen bersama sebagai sebuah komunitas kelas. Berdasarkan komitmen inilah anak-anak berupaya memvisualisasikannya dalam bentuk sebuah drama. Di satu sisi, drama ini harus melibatkan semua anggota kelas. Di sisi lain, drama ini harus ditampilkan tanpa adanya dialog sedikit pun.
Dari proses yang ada, anak-anak ingin agar tercipta komunitas kelas yang siap merangkul satu dengan yang lain. Alih-alih sekadar sebuah kelompok yang terdiri dari kumpulan manusia, anak-anak bermimipi agar kelas dapat menjadi ruang yang menghadirkan suasana rumah bagi mereka. Maka dari itu, kelas pun mengambil “The Bee House” sebagai judul dari psycho-drama mereka.

Dalam teater pantomim tersebut dikisahkan sebuah koloni lebah yang hidup dengan penuh ketenangan. Segalanya tampak baik-baik saja. Mereka dapat mengumpulkan madu dan membangun sarang dengan baik, seperti koloni lebah pada umumnya. Suatu ketika, datanglah manusia yang merusak dan memporakporandakan sarang dari koloni lebah tersebut. Kegamangan dan kebingungan pun melingkupi koloni tersebut.
Namun demikian, dari kehancuran sarang mereka, terbangunlah hal baru, yaitu kekompakan sebagai sebuah kelompok. Mereka pun bekerja sama untuk membangun rumah/sarang yang baru.
Kukira hanya komitmen kosong, ternyata komitmen tersebut mulai terwujud. Cita-cita untuk dapat menjadikan kelas sebagai sebuah komunitas yang hommy dan merangkul mulai terwujud. Ada hal menarik di akhir retret. Anak-anak saling mendoakan dan didoakan. Waktu yang dialokasikan sejatinya hanya singkat. Namun demikian, waktu yang ada ternyata kurang karena ini menjadi momen pertama kali antaranggota kelas secara langsung dan personal saling memberikan dukungan.
Baik psycho-drama maupun momen saling mendoakan, keduanya menyajikan poin yang cukup jelas. Seseorang tidak akan pernah berjuang sendirian. Akan selalu ada orang-orang lain yang membantu, menyemangati, dan mendukung perjalanan hidup seseorang. Hanya bersama dengan koloninya, seekor lebah dapat membangun kembali sarangnya yang porak poranda. Hanya ketika didoakan dan didukung oleh teman sekelasnya, seseorang sampai pada kesadaran bahwa impian yang dimilikinya, sungguh layak diperjuangkan.

Aku mengamini hal ini. Setidaknya, hal inilah yang dominan kurasakan. Tanpa orang-orang yang memberikan dukungan dan bantuan, agaknya perjalanan hidup ini terlalu berat dan melelahkan untuk dijalani. Secara personal, penampilan psycho-drama dan momen saling mendoakan membawaku pada kesadaran dan rasa syukur. Banyak pribadi yang berkenan hadir, terutama ketika sebuah perjalanan terlalu berat untuk diselesaikan sendirian. Banyak pribadi yang telah berkenan menjadi tempatku singgah, terutama ketika tubuh ini diliputi oleh rasa lelah. Ada banyak pribadi pula yang berkenan hadir menjadi teman ketika jalan yang kutapaki sarat dengan kesendirian dan ketidakpastian. Maka dari itu, tidak sulit bagiku untuk meyakini dan mengimani bahwa melalui orang-orang inilah Tuhan hadir. Dengan cara yang tak terduga, Tuhan berupaya memastikan bahwa aku baik-baik saja.
Bekal Perjalanan…
Akhirnya, aku bersyukur atas pengalaman 3 hari bersama kelas XII IPA 1 SMA Kolese Gonzaga. Alih-alih sekadar menemani, aku pun turut berproses dalam dinamika retret. Bersama mereka, aku bersyukur boleh jatuh cinta lagi. Ini senada dengan lagu yang dinyanyikan Andrea Bocelli yang berjudul 'Return to Love'. Dalam penggalan liriknya, dikatakan, “I'll return to love and take the fall, as if my heart cannot break, one more time”. Ketika seseorang jatuh cinta, ia akan merekalan segalanya demi yang dicintai.




Comments