top of page

Experientia est optima rerum magistra

  • Writer: Il pellegrino
    Il pellegrino
  • Sep 24, 2022
  • 7 min read

Updated: Sep 25, 2022

(Pengalaman adalah guru terbaik)

Minggu, 18 September 2022, tepatnya setelah Perayaan Ekaristi usai, aku memutuskan untuk berjalan ke lapangan tengah SMA Kolese Gonzaga. Sejenak, aku tertegun ketika aku melihat kondisi lapangan tengah. Semuanya bersih dan kembali seperti sediakala. Seolah-olah tidak pernah terjadi apapun sebelumnya. Padahal, malam sebelumnya, tempat tersebut menjadi saksi bisu 2000-an orang yang berteriak serta berjingkrak meramaikan closing Gonzaga Lustrum Festival (GLF). Malam itu, suasana semakin semarak dengan adanya stage megah, lighting indah, dan sound system yang menggetarkan kaca-kaca di kompleks Gonzaga. Malam berganti, pagi menjelang. Pemandangan lapangan pun berubah seketika. Yang tersisa bukan semarak GLF, melainkan si Culas yang tertidur pulas di tengah lapangan sambil menikmati sinar pagi Sang Surya.



Dalam kesunyian itu, sebuah peristiwa muncul. Waktu itu aku dan beberapa panitia acara terlibat dalam rapat penyusunan anggaran. Di akhir rapat, dengan suara agak bergetar, seorang anggota panitia acara bertanya padaku,
“Menurut Frater, apakah rencana anggaran ini sudah cukup layak untuk dipresentasikan di depan Pater dan para guru? To be honest, kami takut.”
Kekhawatiran mereka cukup beralasan, sebab dalam rapat sebelumnya, rencana anggaran mereka dimentahkan. Di hadapan kegelisahan yang ada, anak-anak muda ini perlu disemangati, dikuatkan, dan diingatkan bahwa esensi dari Gonzaga Lustrum Festival adalah sebagai sarana pembelajaran. “Teman-teman, GLF adalah sarana pembelajaran. Kalian memang bukan profesional, maka wajar kalau salah, keliru, dan dapet kritik sana-sini. Namanya juga belajar. But, don’t worry. We work on this together…”
Jika sekadar mengedepankan semarak dan kemeriahannya, agaknya Gonzaga Lustrum Festival bisa dianggap paripurna setelah acara closing usai dan sorot lampu panggung dipadamkan.
Akan tetapi, Gonzaga Lustrum Festival bukan sekadar sebuah selebrasi. Gonzaga Lustrum Festival adalah sarana untuk sebuah tujuan, bernama pembelajaran.
Apakah hanya anak-anak yang belajar dalam event lima tahunan ini? Tidak. Sebagai orang yang baru pertama kali mempersiapkan Gonzaga Lustrum Festival secara luring, justru aku banyak belajar dari anak-anak yang kutemani. Maka dari itu, ada berbagai hal yang sejatinya ada sekian banyak hal yang dapat ditunjuk sebagai ruang-ruang pembelajaran tersebut.



Gonzaga Lustrum Festival itu bukan pertama-tama berangkat dari proses pengambilan keputusan serba gagap dan reaktif. Sebaliknya, GLF berakar pada proses pengambilan keputusan yang dipertimbangkan secara matang, demi melayani tujuan tertentu. Keterarahan pada tujuan tertentu inilah yang membuat perumusan tema menjadi demikian esensial. Tema yang dirumuskan apa adanya hanya akan membuat seluruh GLF menjadi ajang buang-buang tenaga dan uang. Tema yang miskin juga akan membuat GLF sekadar sebuah rutinitas yang sarat hura-hura. Sekali lagi, merumuskan tema itu esensial.
Tema itu ibarat kompas yang menentukan arah perjalanan sebuah perahu di tengah lautan luas. Tema juga ibarat pondasi yang menopang struktur bangunan yang ada di atasnya.
Tema “Terbit” dan tagline “Bertaut menyalakan jiwa” pun diterjemahkan dalam berbagai bentuk kegiatan. Rundown kegiatan selama seminggu penuh ini perlu disusun, dirapatkan, dan direvisi berulang kali. Melelahkan. Meski demikian, aku yakin, ada pokok pembelajaran tersendiri di sini. Alih-alih serba “tahu bulat” (dadakan), semoga anak-anak belajar bahwa acara sekaliber GLF memerlukan persiapan jangka panjang dan matang. Tidak mengherankan apabila tahap perencanaan menjadi sarana efektif untuk melatih kesabaran dan daya tahan.


Kedua, hal yang kusyukuri dapat dipelajari dalam Gonzaga Lustrum Festival ini adalah kemampuan untuk berkomunikasi. Dalam banyak kesempatan, cukup pasti anak-anak yang terlibat dalam kepanitiaan harus belajar berkomunikasi dengan pihak luar, bernegosiasi, dan akhirnya membuat kesepakatan kerja yang harus ditandatangani. Seiring dengan beragamnya perlombaan yang diadakan, cukup pasti anak-anak belajar berkomunikasi pula, baik dalam proses penyebaran invitasi, promosi, registrasi, maupun eksekusi pelaksanaan lomba. Berkomunikasi dengan pihak luar berarti belajar menjadi tuan rumah yang baik.
Kehadiran peserta lomba dan tamu undangan dari luar kompleks Pejaten Barat 10A membuat siswa/i pada umumnya dan anggota panitia pada khususnya diundang untuk menghadirkan wajah Gonzaga yang khas dengan “Tiga S”-nya (senyum, salam, sapa).
Namun demikian, komunikasi bukan hanya soal keluar, tapi juga ke dalam Komunitas Gonzaga. Agaknya hal ini pun tidak kalah krusial untuk dipelajari. Beberapa percakapan ringan di sela-sela kepanitiaan meneguhkan urgensi mempelajari hal ini. Keputusan tidak segera dapat diambil karena chat yang tidak dibalas. Keretakan hubungan dalam suatu kepanitiaan, kerap berawal dari informasi yang tidak ditanggapi. “Pacar saya aja ga gini amat kalo saya chat ! Pasti bales sekalipun telat. Nah ini, chat saya di grup bener-bener dianggurin, Frat. Didiemin doang, biar mateng apa yak?”
Di ekstrim yang lain, lawan dari kepedulian adalah pengandaian. Sejatinya ada selaput tipis yang memisahkan antara ketidakpedulian dengan 'pengandaian'. Mengandaikan berarti berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan diri bahwa segalanya akan serba otomatis dan berjalan sebagaimana mestinya. Diandaikan segalanya dapat berjalan baik, sehingga controlling dan evaluasi tidak diperlukan. Diandaikan orang lain sudah paham, sehingga penjelasan ulang tidak diperlukan lagi. Diandaikan cuacanya tidak hujan, sehingga tidak perlu ada berbagai bentuk antisipasi yang cenderung merepotkan. Menyadari tidak sehatnya fenomena pengandaian ini, tidak sedikit dari koordinator bidang yang terlibat dalam GLF berusaha menyapa mereka yang incharge di dalamnya, mengontrol “ini dan itu”, dan memastikan segalanya berjalan dengan baik. Nyatanya mengatur nyala api lebih menghemat energi ketimbang membiarkannya membesar dan berakhir dengan membakar berbagai hal yang ada di sekitarnya.




Jika ditelisik lebih jauh, mengadakan GLF juga menjadi ajang untuk belajar bekerja sama sembari sembari memetakan corak relasi dengan rekan sekerja. Relasi dalam kerangka kepanitiaan inilah yang kerap kali memberikan pengenalan yang semakin lengkap terhadap seseorang, khususnya teman sekerja. Dalam kerja dan kepanitiaan, kualitas asli seseorang tampak.
Topeng-topeng ditanggalkan. Pulasan-pulasan dihapuskan. Tidak jarang, yang terhampar di hadapan kita ialah otentisitas seseorang beserta kerapuhan yang justru semakin tampak dalam dirinya. Di titik inilah momen pemurnian terjadi.
Jika sebuah teamwork terdiri dari teman yang satu frekuensi, syukurlah. Syukurlah jika karena GLF seseorang menjadi lebih dekat dengan teman satu circle, terutama karena menemukan bahwa keduanya memiliki passion dan concern yang sama. Akan tetapi, dalam banyak kesempatan, kita tidak bisa memilih dengan siapa kita bekerja. Maka dari itu, pertanyaan-pertanyaan ini agaknya layak untuk diajukan. Apakah aku tetap mau menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepadaku, terlepas cocok tidaknya aku dengan partner kerjaku? Apakah aku memiliki daya tahan dalam bekerja, terutama dengan orang yang ngeselin, nyebelin, bahkan cuman numpang nama doang? Seberapa jauh asas like & dislike memberi pengaruh pada caraku bekerja? Sekali lagi, di sinilah ajang pemurnian terjadi. Seseorang dipanggil untuk dapat mengesampingkan rasa suka-tidak suka dan mengedepankan profesionalitas dalam menyelesaikan tanggungjawab yang dipercayakan kepadanya.


Hal yang juga perlu dicatat, GLF ternyata juga menjadi ajang untuk mengenali diri. Unsur pengenalan diri yang penting namun jarang sekali mau dimasuki seseorang adalah mengenali batas dirinya. Jarang? Ya, siapa yang mau terlihat lemah. Antitesisnya, apakah setiap orang selalu dan harus kuat? Jawabnya, tidak. Dalam dinamika konkret bekerja, seseorang memang dituntut untuk dapat bekerja dengan total. Tidak mengherankan apabila skill untuk dapat bekerja dengan tenang, efektif, serta cekatan di hadapan berbagai tekanan menjadi sesuatu yang fundamental.
Akan tetapi, ada kalanya seseorang diundang untuk mengakrabkan diri dan bertemu dengan sesuatu yang bernama “batas diri”. Ada tembok yang demikian tebal lagi tinggi yang tidak dapat dilampaui seseorang.
Ada kekecewaan dan frustasi yang barangkali membuncah dari dalam hati seseorang, terutama ketika rekan kerja tidak cocok, banyak hal belum juga paripurna, dan deadline kian menghimpit.
Bertemu dengan batas diri dan dengan lapang dada berkata “cukup” adalah satu dari sekian hal yang agaknya cukup dominan dialami oleh mereka yang terlibat dalam GLF. Alih-alih terlihat lemah dan mediokre (setengah-setengah), pengenalan atas batas diri membantu seseorang untuk berani dan dengan rendah hati menyadari bahwa tidak semua hal di muka bumi ini dapat diatasi seorang diri. Alih-alih menjadi sok kuat, seseorang diundang untuk dapat membuat dirinya terbuka atas uluran tangan orang lain. Bekerja itu bukan ajang saling mempertahankan atau bahkan rebutan panggung. Bekerja adalah momen untuk memupuk kemampuan berkolaborasi. Adapun kolaborasi hanya dapat dibangun jika kerendahanhati mengakui batas diri telah hidup lebih dulu dalam relung hati seseorang.



Sekalipun menyingkapkan kerapuhan eksistensial seseorang lewat batas diri yang dimiliki, bekerja dalam kepanitiaan juga menjadi kesempatan bagi seseorang untuk semakin dapat mengenal potensi yang ada dalam dirinya. Tidak mengherankan apabila GLF menjadi ajang penyingkapan untuk berbagai potensi yang ada dalam diri seseorang. Ada sekian banyak anak Gonz yang tampak “B aja” dalam keseharian, tapi kelihatan outstanding di GLF ini. Kemampuan serta potensi mereka tersingkap. Dalam diri mereka, ada harta terpendam yang layak untuk disyukuri dan siap dibagikan untuk semakin banyak orang.
Siapa sangka, ada sekelompok pelajar SMA yang berhasil menciptakan sebuah naskah drama musikal yang dijajaki dengan proses riset yang cukup kompleks? Siapa sangka ada anak SMA yang setelah 2 tahun ada di rumah, kini mampu membawakan diri dan menjadi tuan rumah yang baik?
Lebih luas lagi, mereka yang tergabung kepanitaan adalah siswa/i produk pandemi. Artinya, mereka sama sekali belum memiliki bayangan, bagaimana GLF secara luring harus diselenggarakan. Dua tahun pandemi sudah cukup bagi mereka untuk mengalami keterasingan dan tidak saling mengenal satu sama lain. Akan tetapi, 3 (tiga) angkatan Gonzaga ini telah berhasil membuktikan diri sebagai generasi Gonzaga yang tangguh dan tahan uji. Sekalipun berasal dari generasi pandemi—yang tidak pernah paham bagaimana mempersiapkannya—keberhasilan acara Gonzaga Lustrum Festival sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan kualitas dalam diri mereka.
Tidak mengherankan apabila potensi dan berbagai hal yang ada dalam diri “anak Gonz” menjadi titik balik yang eksistensial bagi seseorang untuk dapat melihat diri dengan paradigma berbeda. Ada sekian banyak hal dan potensi yang dapat dibagikan kepada semakin banyak orang. Maka dari itu, sudah sepantasnya diri ini dipandang dengan cara pandang yang lebih positif. Ada kalanya diri ini dituntut. Akan tetapi, ada kalanya diri ini perlu dipeluk, dan “di puk-puk” sembari berkata, “Diriku, kamu berharga. Terima kasih diriku karena telah berjuang sejauh ini…”




Sekali lagi, GLF menjadi sebuah afirmasi bahwa pembelajaran terjadi tidak hanya ketika ada di dalam kelas dan mengerjakan soal. Pembelajaran juga terjadi di luar kelas. Mengkalkulasi anggaran untuk penyewaan stage dan soundsystem memiliki bobot setara dengan proses memecahkan soal matematika yang sarat teka-teki. Merancang skenario penurunan Banner Gonzaga Lustrum Festival dari Wall Climbing, tidak lain adalah bentuk penerapan Fisika dalam hidup sehari-hari. Sebagaimana terdapat dalam Paradigma Pedagogi Ignasian, pengalaman menjadi unsur penting dalam pendidikan. Mengapa demikian?
Seperti dialami Ignasius Loyola sendiri dalam Autobiografinya, pengalaman mengajarkan banyak hal untuk hidupnya. Pembelajaran yang berangkat dari pengalaman biasanya lebih berakar.
Maka dari itu, belajar dari pengalaman menjadi sebuah imperatif (keharusan). Darinyalah seseorang dapat memperoleh bekal untuk hidupnya kelak di kemudian hari.



Akhirnya, semoga “Terbit” tidak berhenti hanya menjadi tema suatu acara bernama Gonzaga Lustrum Festival, yang sarat selebrasi, puas dikenang, tapi begitu saja dilupakan dan ditinggalkan orang. Semoga setiap pribadi yang terlibat di dalamnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat “terbit” dan lahir kembali menjadi pribadi yang baru. Semoga dengan belajar dari pengalaman—khususnya dalam konteks GLF—lahir pribadi-pribadi baru yang siap sedia “bertaut menyalakan jiwa” bagi mereka yang mulai redup harapan dan semangat hidupnya.


Pejaten, 24 September 2022
GASW

Comments


bottom of page