top of page

More than Words

  • Writer: Il pellegrino
    Il pellegrino
  • Jun 1, 2022
  • 4 min read

Tahun 1991, band asal Amerika, Extreme merilis sebuah lagu berjudul More than Words. Dalam lagu tersebut, undangan Gary Cherone dan Nuno Bettencourt sebagai penulis lagu jelas. Tindakan mencintai sudah lebih dari cukup untuk mewakili sejuta kata cinta.

Dalam salah satu liriknya, dikatakan demikian, “More than words to show you feel that your love for me is real ''. Meskipun dirilis 30 tahun lalu, faktanya lagu ini masih dinyanyikan hingga hari ini. Ada sesuatu yang agaknya tetap dan tidak berubah dari lagu ini. Undangan untuk mencintai lebih dari sekadar kata-kata, ternyata menjadi undangan yang masih beresonansi hingga hari ini. Alih-alih dipuaskan oleh kalimat I love you, hati seseorang akan lebih tenang jika dari mulut sosok yang dicinta terucap kalimat I wanna die for you. Agak melankolis, tapi bukankah cinta perlu lebih diungkapkan dalam kata-kata daripada perbuatan?

Kata kuncinya ialah melampaui kata-kata (more than words).

Pengalaman melampaui kata-kata inilah yang kualami ketika membaca “Surat Kecil untuk diriku di masa depan”. Tulisan ini dibuat Kawula Muda Gonzaga sebagai follow up acara Profession day yang telah mereka jalani. Anak-anak diminta untuk menuliskan secarik surat mengenai kondisi faktual mereka saat ini. Dalam surat itu pula, mereka diundang untuk menjawab pertanyaan berikut, "Jika surat ini dibaca oleh dirimu 15 tahun lagi, apa yang akan dirimu sampaikan?" Sekalipun harus meluangkan waktu khusus untuk membaca tulisan sepanjang 300 kata, ada sesuatu yang ternyata dapat kutimba dari tulisan mereka.



aku menemukan diri tenggelam dalam setiap narasi yang mereka tuliskan. Ada berbagai perasaan dan pengalaman afektif yang membuncah dalam surat tersebut. Aku beruntung. Sekalipun belum mengenal wajah beberapa dari mereka, setidaknya aku dapat sedikit mengenal isi relung hati mereka.

tulisan mereka, ada berbagai disposisi faktual yang Kawula Muda Muda Gonzaga alami. Ada sebuah kesadaran baru bahwa perubahan dari Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menuju Pembelajaran Tatap Muka (PTM) perlu dilalui dengan mencurahkan energi yang cukup besar. Adjusting dari PJJ ke PTM itu tidak semudah membatalkan pesanan makanan di aplikasi pesan-antar dan menggantinya dengan menu kudapan lain. Berbagai bentuk penyesuaian diri—baik fisik maupun psikis—perlu dilakukan.

Jika sebelumnya, sekolah dapat diikuti sekadar melalui layar monitor. Kini, mereka harus agak berkorban untuk dapat bersekolah. Selain itu, mereka yang biasa melakukan “apa-apa sendiri”, kini harus kembali membiasakan diri untuk menjalin atau bahkan membangun circle pertemanan. Lugasnya, persekolahan yang semula dapat diikuti sekadar dengan menekan tombol “Power”, kini harus diupayakan dengan susah payah——bangun pagi, melawan mager, dan menembus macet.



Secara personal, aku belajar sesuatu dari surat yang anak-anak tuliskan. Aku belajar memeluk nilai honesty—kejujuran. Alih-alih jujur saat ujian, core value yang satu ini menyiratkan undangan untuk dapat jujur dan semakin apa adanya dengan diri sendiri. Aku belajar artinya jujur mengakui bahwa diri ini gelisah untuk memulai proses pembelajaran tatap muka. Ada ketakutan karena tembok-tembok yang selama ini menjanjikan kenyamanan, perlu dikikis, bahkan dirubuhkan. Ada sebuah kemendesakan yang membuat seseorang harus belajar kembali caranya menyapa dan akhirnya mencari teman. Lebih dalam lagi, aku belajar untuk jujur terhadap diri sendiri dan mengakui bahwa ada kegelisahan yang tersisa dalam diri terkait masa depan yang belum pasti. Ada tegangan yang terkandung dalam sebuah cita-cita, antara utopia dan realita, antara sesuatu yang muluk-muluk dan realitas yang ada dalam diri saat ini.

Alih-alih berhenti pada kesadaran akan kerapuhan diri, menjadi pribadi yang jujur berarti juga menjadi cara untuk menyadari potensi yang ada dalam diri.
Dengan kejujuran yang ada, anak-anak menyadari bahwa perjalanan yang selama ini ditempuh sudah cukup jauh. "Thank you myself in the future. Terima kasih karena udah mau bertahan dan berjuang sejauh ini. I'm really proud of you...", demikian terungkap dalam salah satu surat yang dibuat oleh anak-anak. Sekalipun tidak selalu terlihat, selalu ada sesuatu yang berkembang dalam diri seseorang. Hal ini meneguhkan bahwa hakikat pertumbuhan adalah geraknya dalam senyap.

Maka dari itu, diri ini perlu diapresiasi. Seseorang perlu berhenti sejenak dan mengucapkan kata “terima kasih” penuh ketulusan untuk diri yang telah berjuang selama ini. Di balik berbagai keterbatasan yang ada, Kawula Muda Gonzaga berhasil membuktikan diri mereka sebagai angkatan yang solid dan memiliki resiliensi. Selain itu, menjadi pribadi yang jujur berarti mau mengakui impian dan kerinduan terdalam yang seseorang miliki. Bukankah hanya orang yang jujur pada diri sendiri, yang mampu mengenal kerinduan terdalamnya?



Dalam konteks surat kecil kepada diri, anak-anak mau dengan jujur mengakui cita-cita terdalam yang hendak diperjuangkannya. Impian inilah yang agaknya hendak diupayakan dengan segala daya upaya yang dimiliki, melampaui segala tantangan dan hambatan. Cita-cita inilah yang hendak diupayakan sekalipun ditapaki di jalan setapak yang belum jelas ujungnya dan dengan “langkah-langkah kecil tak mantap”.

Aku ngga tahu, impian kita udah terwujud apa belum. Besides, the most importan thing is that we already happy with our life and our choice."

Sekalipun hanya sesekali bertatapan muka, untaian kata inilah yang membuatku bersyukur karena dapat sedikit mengenal isi relung-relung hati beberapa dari Kawula Muda Gonzaga. Ada rasa syukur bercampur kekhawatiran atas masa depan yang sarat ketidakpastian. Namun demikan, satu hal yang pasti, kegelisahan yang ada “di dalam sana” tidak berdiri sendiri. Gelapnya kegelisahan ada bersama pendar api harapan yang hari demi hari hendak dipastikan nyalanya. Sekalipun sarat ketidakpastian, harapan inilah yang menjiwai perjalanan hidup setiap pribadi, yang menanti untuk diselesaikan hingga peluit akhir pertandingan dibunyikan. Semangat-semangat muda yang ada di balik untaian kata-kata inilah yang menolak dipadamkan nyalanya.

Hanya rasa syukur dan ucapan terima kasih yang dapat mewakili proses membaca surat-surat kawula muda Gonzaga. Syukur karena boleh mengenal mereka. Terima kasih karena telah mengingatkan kembali artinya "mewujudkan cinta lebih dari sekadar kata-kata" [LR 230]. Akhirnya, kututup tulisan ini dengan mengutip penggalan lirik berikut, “What would you say, if I took those words away. Then you couldn’t make things new just by saying I love you..

Pejaten Barat, 1 Juni 2022 GASW



Comments


bottom of page