Parade Budaya, Parade Identitas
- Il pellegrino

- Nov 13, 2022
- 5 min read
Wong Jawa ilang Jawane, lali marang budi pekertine
Esuk dele sore tempe. Suwe, suwe, ilang martabate
Kalau literally diterjemahkan, lirik ini akan berbunyi, “Orang Jawa hilang kejawaannya, lupa akan budi pekertinya. Pagi kedelai, sore tempe. Lama-lama hilang martabatnya”. Apa maksudnya? Melalui lagu yang dirilis tahun 2014 ini, Jogja Hip Hop Foundation (JHF) hendak menyiratkan pesan yang esensial. Di tengah kemajuan zaman yang terjadi, orang Jawa harus memiliki pendirian teguh. Alih-alih terhanyut dan kehilangan jati dirinya—seperti kedelai yang hanya dalam sehari berubah menjadi tempe—orang Jawa diundang untuk tetap memperjuangkan otentisitas dan identitas kultural yang dimilikinya. Dengan demikian, martabat yang ada pada seseorang dapat tetap dijaga keutuhannya.

Parade Budaya Indonesia
Dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda, Gonzaga mengadakan sebuah acara pada tanggal 29 Oktober. Nama acaranya adalah Parade Budaya Indonesia. Dalam acara tersebut ada banyak rangkaian. Dari berbagai hal yang ada dalam Parade Budaya Indonesia, ada satu hal yang menarik perhatianku. Seluruh anggota Komunitas Gonzaga harus mengenakan busana daerah yang berasal dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia. Semakin unik pakaian yang digunakan akan semakin baik.
Agar momen berharga ini tidak sekadar sebuah formalitas dan berhenti sebagai suatu selebrasi, panitia bahkan mengharuskan agar anggota Komunitas Gonzaga yang mengenakan pakaian daerah memahami dan mengetahui makna dari pakaian yang tengah mereka gunakan.
Alih-alih sekadar penutup dan pelindung tubuh, setiap pakaian tradisional yang dimiliki oleh masing-masing provinsi di Indonesia mengandung makna tersendiri dalamnya. Ini mungkin sejalan dengan sebuah pepatah Jawa yang berbunyi, “Desa mawa cara, negara mawa tata”—Desa mempunyai adat sendiri, negara mempunyai hukum sendiri.
Pepatah ini hendak menyiratkan sebuah pesan bahwa setiap tempat serta berbagai unsur kebudayaan memiliki adat-kebiasaan masing-masing yang berbeda-beda dan unik.
Agaknya, hal yang hendak dibidik dalam Parade Budaya Indonesia cukup jelas. Kita perlu mengetahui pakaian apa yang kita pakai, bahkan lapisan makna yang terkandung di dalam setiap helai kainnya. Kita pun boleh bernapas lega karena tindakan mengenakan pakaian tradisional tidak hanya menjadi suatu formalitas dan ajang selebrasi belaka. Dari pakaian yang digunakan, seseorang dapat dikenali identitasnya.
Secara personal, menimbang mengenai pakaian yang dikenakan, sejatinya ada undangan bagi seseorang untuk identitas yang saat ini sedang dipakai, dihidupi, dan diperjuangkan. Menimbang identitas yang melekat pada diri seseorang berarti memastikan bahwa ia tidak seperti mayat hidup yang memiliki raga namun tak punya jiwa. Menimbang identitas juga memastikan bahwa hidup yang seseorang jalani tidak sekadar menggelinding liar seperti bola salju yang menuruni lembah dan tanpa arah.
Berisik dan Berisi
Masing-masing dari kita memiliki identitas, apapun itu. Kalau kita seorang anak, kita tentu harus paham cara bersikap layaknya seorang anak yang perlu menaruh hormat kepada orangtua sebagai sosok yang dituakan. Sebagai sahabat, kita tentu harus bersikap layaknya seseorang yang siap memberikan pundak untuk sahabat yang perlu sejenak menyandarkan kepala. Sebagai guru, kita tentu perlu bersikap sebagai sosok yang layak untuk digugu (ditaati) dan ditiru (diteladani).
Poinnya jelas. Identitas tadi dapat diganti dengan identitas lain sesuai dengan keinginan hati kita. Apapun identitas yang melekat dalam diri, kita perlu perlu tahu arti bahkan konsekuensi dengan menyandang identitas yang kita miliki.
Seseorang di masa lalu pernah berkata, “Jika aku dapat berbicara dalam bahasa-bahasa manusia dan para malaikat, tetapi tidak mempunyai kasih, aku adalah gong yang berbunyi dan canang yang gemerincing...” Saat seseorang tidak sungguh-sungguh memahami identitas yang disandangnya, ia tidak lebih dari derau suara bising tak beraturan. Memang berbunyi, tetapi tidak jelas lagu apa yang hendak dilantunkan. Maka dari itu, undangannya jelas. Perlu ada kesinambungan antara tindakan yang seseorang lakukan dengan identitas yang melekat pada dirinya.

Sekecil apapun keputusan yang diambil, suka atau tidak, mau atau tidak, keputusan akan berpengaruh pada identitas yang kita miliki. Apabila sebuah tindakan semakin mendekatkanku dengan identitas yang kumiliki, syukurlah. Jika sebuah tindakan tidak sinkron dengan identitas yang kita miliki, pertanyaan besar layak diajukan untuk menggugat identitas tersebut.
Dalam Parade Budaya Indonesia, kita diwajibkan untuk mengetahui nama beserta makna pakaian tradisional yang digunakan. Sekali lagi, pakaian itu merepresentasikan identitas. Maka dari itu, dalam lapisan yang lebih dalam, kita diundang untuk menjadi pribadi yang tahu dan sadar ketika pertanyaan, “Siapa aku?” kita layangkan kepada diri sendiri. Semoga identitas yang kita kenakan tidak berhenti sekadar sebagai bungkus yang dari luar tampak indah, tapi kekosongan di dalamnya.
Sebuah Pergulatan Personal
Entah mengapa, persoalan tentang identitas ini tengah menarik perhatianku akhir-akhir ini. Sebagai orang muda yang sedang belajar menemani orang muda yang lain, ada sebuah pertanyaan eksistensial yang kerap menghantuiku. “Orang-orang muda yang telah mempercayakan diri untuk kutemani ini akan kubawa kemana?”
Imajinasi pun membawaku pada kutipan surat yang disampaikan oleh Jenderal Serikat Yesus, Pater Peter Hans Kolvenbach, S.J. kepada Institusi pendidikan yang dikelola oleh para Yesuit.
“...our goal as educators [is] to form men and women of competence, conscience, and compassionate commitment…..”
Kalimat ini ringkas, padat, dan tajam. Berbagai acara dalam konteks pendidikan di SMA Kolese Gonzaga—seperti Masa Inkorporasi Gonzaga (MIG), Jambore, Gonzaga Lustrum Festival, Latihan Kepemimpinan Ignasian (LKI), dsb—diupayakan bukan hanya karena “biasanya begitu”, sehingga harus mutlak ada.

Acara tersebut diusahakan demi mencapai suatu tujuan, yaitu “...to form men and women of competence, conscience, and compassionate commitment”. Jika diadakan dan sasaran yang dibidik berbeda atau bahkan melenceng dari usaha mewujudkan core values, maka evaluasi yang cukup fundamental perlu dilakukan atas acara tahunan tersebut. Jika acara sekaliber MIG dan LKI telah diadakan, tetapi core values tidak mendaging dan tidak terwujud dalam hidup sehari-hari, maka pertanyaan berikut perlu diajukan. Apakah 4C masih dihidupi ataukah sekadar berhenti sebagai sebuah slogan luhur yang dihafalkan, digaungkan berulang-ulang, tetapi segera ditinggalkan orang?
“...Jika tidak, tebanglah.”
Alkisah, seorang pemiliki kebun Buah Ara datang kepada penggarapnya untuk memanen tanaman yang dipercayakan kepadanya. Sebaliknya, yang didapatinya ialah tanaman yang lebih mirip semak daripada tanaman Ara, karena rimbun daunnya, tapi nihil buahnya. Melihat hal ini, sang empunya kebun pun meminta para pekerjanya untuk menebang tanaman tersebut karena dianggap tidak produktif dan segala yang telah diusahakannya berujung sia-sia. Akan tetapi, penggarap itu berkata, “...Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah.”
Perumpamaan tersebut, mungkin menjadi potret berbagai hal yang akhir-akhir ini terjadi di SMA Kolese Gonzaga. Berbagai fenomen inilah yang membawaku pada kesimpulan berikut. Mungkin, aku beserta beserta setiap pribadi yang ada di dalamnya agaknya perlu mengalami jatuh cinta lagi pada 4C—Conscience, Competence, Compassion, dan Commitment. Core values agaknya perlu dipeluk, dijadikan milik, dan dihidupi kembali.
Seperti pohon Ara yang nyaris ditebang oleh sang empunya kebun, pertumbuhan core values di komplek ini perlu dicangkul, disiangi, dan dipupuk kembali.
Sekali lagi, identitas tidak hanya diterima ketika seseorang telah berhasil menggunakan atribut tertentu atau menjadi anggota institusi tertentu. Identitas dianggap sah ketika ada kesinambungan antara tindakan dengan identitas yang dimiliki. Dalam konteks ini, seseorang sah disebut siswa/i Kolese ketika setiap tindakan serta keputusan yang diambil mencerminkan masing-masing dari core values—Conscience, Competence, Compassion, dan Commitment.




Comments