top of page

Rumah ke Rumah

  • Writer: Il pellegrino
    Il pellegrino
  • Oct 15, 2022
  • 5 min read

Updated: Oct 18, 2022

“Pindah berkala rumah ke rumah. Mengambil pelajaran jika berpisah
Jikalau suatu saat berujung indah. Catat nama kita dalam sejarah…”

Dari sekian banyak aktivitas yang kujalani selama Jambore bersama kelompok Afrika Selatan, ada satu hal yang menarik perhatianku, yaitu tinggal di dalam tenda. Ada 2 (dua) macam tenda yang menjadi tempat tinggalku bersama kelompok Afrika Selatan, yaitu tenda Dome dan tenda Bivak. Tampaknya hal yang lumrah dan biasa untuk tinggal di dalam tenda ketika Jambore diadakan. Namun demikian, bukankah hal yang lumrah dan biasa juga bisa menjadi cara bagi Tuhan untuk menampakkan wajah-Nya? Jejak kehadiran-Nya inilah yang coba kutangkap lewat simbol tinggal di dua tenda berbeda ini.



Dua Tenda

Jenis tenda pertama yang kutempati ialah Tenda Dome. Tenda ini relatif besar. Dalam satu tenda, ada 5-6 orang yang bisa tinggal di dalamnya. Tenda dengan kombinasi warna biru dan kuning inilah yang menjadi tempat berlindung aku dan kelompok Afrika Selatan dari rintik hujan sembari memastikan tidak ada air yang merembes dan membasahi barang yang dibawa.
Selain itu, tenda juga menjadi tempat bagi kami bertigabelas memasak sup, membuat nasi goreng, dan menggoreng tempe. Kami mencecap kebenaran apa kata orang.
Makanan akan semakin nikmat ketika disantap dalam suasana kebersamaan (dan kelaparan). Pendek kata, tenda Dome menjadi saksi bisu kelompok Afrika Selatan yang saling mengakrabkan diri dengan obrolan ringan, candaan, hingga pembicaraan yang sarat kedalaman.

Malam kedua Jambore tiba. Ini menjadi penanda bahwa aku dan keduabelas anggota kelompok Afrika Selatan lainnya harus berpindah ke tenda jenis kedua, yaitu tenda Bivak. Berbeda dengan tenda Dome, kapasitas Bivak jauh lebih kecil. Esensi Bivak adalah tenda darurat. Maka dari itu, tenda ini hanya muat untuk satu orang dan didirikan sekadar untuk tidur. Untuk itulah, masing-masing dari kami harus mendirikan tenda sendiri-sendiri. Bermodalkan ponco, tali pramuka, pasak, dan rasa kantuk, kami mulai berjibaku membangun Bivak di tengah suhu udara yang semakin dingin. Tiga belas tenda berdiri. Ini menjadi tanda solonite dimulai.

Dua Suasana

Tinggal di dua tenda berbeda, ternyata menyiratkan dua nuansa berbeda. Selama tinggal di tenda Dome, aku bersyukur karena kehangatan dan persahabatan yang menjadi suasana dominan ketika kelompok Afrika Selatan bernaung di dalamnya. Sekalipun hadir sebagai mentor, aku merasa at home tinggal di tengah-tengah mereka. Kebersamaan dan perasaan at home inilah yang membuatku dengan sadar mengambil keputusan untuk dengan intensif menemani mereka, sekalipun itu artinya aku harus berjibaku di tengah badai bersama mereka. Selain itu, tumbuh pula rasa syukur karena aku dapat menjadi saksi tumbuhnya 12 benih Gonzaga muda dalam diri anggota kelompok yang saat menyanyikan yel-yel selalu berteriak ‘Aua..’



Alih-alih berhenti di dalam tenda, kebersamaan dan kekompakan kelompok Afrika Selatan ini bergaung bahkan ketika kami berada di luar tenda. Berjalan menyusuri lereng Gunung Salak sambil menyorakkan yel-yel “Jambore..Jambore…Afrika Selatan..”, bermain games hingga bermandikan lumpur, dan berbagi snack sambil deep talk tipis-tipis adalah beberapa dinamika yang turut memperkuat akar kebersamaan dalam kelompok ini.
Perasaan “berada di rumah” inilah yang kian berakar, sehingga ketika tiba saatnya berkemas, terucap kata-kata, “Harus sekarang banget nih beberesnya, Frat? Udah kadung betah dan mager nih, Frat…
Namun, Jambore bukan sekedar ajang memperjuangkan kehangatan. Jambore adalah momentum latihan keluar dari zona nyaman. Maka dari itu, peserta Jambore dituntut untuk mandiri. Konkretnya, setelah nyaman di tenda Dome, aku dan kelompok Afrika Selatan diajak untuk keluar tenda, menyusur hutan malam hari, dan membangun bivak seorang diri dalam kegiatan solonite. Sebelumnya, di Tenda Dome, kantuk bisa ditunggu datangnya sembari mengobrol ringan dengan teman sekelompok. Di tenda Bivak, hanya suara jangkrik dan riuh dedaunan tertiup angin yang terdengar saat mata hampir terpejam. Seseorang harus tidur seorang diri di balik Bivak. Sunyi cukup pasti menjadi suasana yang dominan dialami. Dalam kesunyian inilah perasaan sendiri demikian kuat. Tidak mengherankan apabila dalam kesendirian yang ada, seluruh panca indera mendadak semakin peka. Ini tanda jelas bahwa tombol survival mode baru saja diaktifkan, khususnya kalau-kalau ada sesuatu yang mencurigakan terjadi di sekitar Bivak.



Secara personal, solonite ini menyadarkanku akan satu hal. Dalam kesunyian dan kesendirian yang ada, aku sadar bahwa aku bukan siapa-siapa di hadapan alam semesta. Manusia begitu kecil. Mungkin benar yang pemazmur katakan.
’’Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia sehingga Engkau mengindahkannya?"
Untuk sekadar tidur pun aku masih perlu mendirikan Bivak. Untuk menangkal ular pun aku masih perlu garam kasar. Untuk menangkal hawa dingin pun aku masih perlu sleeping bag dan thermal blanket. Hanya sebagian kecil saja dari alam semesta yang dapat dipahami. Di sisi lain, ada bagian dari alam ini yang belum terselami dan masih tinggal sebagai misteri. Tak heran jika dalam suasana yang sunyi lagi gelap itu, hanya perasaan was-was bercampur sedikit pasrah yang dominan kurasakan ketika hendak memejamkan mata saat solonite.

Rumah ke Rumah

Pengalaman tinggal dan berpindah dari tenda Dome menuju Bivak ini menjadi simbol yang menarik untuk direfleksikan. Sayang jika dilewatkan. Dalam Jambore, tenda Dome menjadi tempat berkumpul, bernaung, dan berlindung. Maka dari itu, tenda ini dekat dengan simbol rumah. Seperti halnya Jambore butuh tenda, setiap orang pun butuh punya rumah. Dalam hal ini, rumah bukan sekadar struktur bangunan yang bisa jadi tempat orang bisa rebahan. Rumah adalah tempat ketika seseorang merasa memiliki dan dimiliki.




Di dalamnya seseorang diterima apa adanya. Di rumah, seseorang akan merasa betah, aman dari ancaman, dan tidak mencari apa-apa lagi. Kesadaran ini membawaku pada kesadaran dan rasa syukur atas rumah(-rumah) yang telah kualami dan kumililki dalam sejarah hidupku. Rumah(-rumah) itu menyadarkanku bahwa aku tidak perlu memakai topeng dan menjadi orang lain. Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri.
Tanpa harus menjadi orang lain, rumah(-rumah) itu siap menjadi tempatku berteduh demi sejenak merasakan pengalaman pulang.
Seperti dalam Jambore, peserta tidak hanya tinggal di tenda Dome yang hangat dan nyaman saja. Ada kalanya para peserta Jambore harus berpindah dan membangun tendanya sendiri-sendiri dalam dinamika solonite. Ini menyiratkan sesuatu. Dalam hidup ini, agaknya seseorang tidak cukup jika hanya tinggal di rumah dan menikmati kehangatan yang ada di dalamnya. Analoginya mungkin mirip dengan syair lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi cilik Ita Tara, "Satu-satu daun-daun berguguran tinggalkan tangkainya. Satu-satu burung kecil berterbangan tinggalkan sarangnya… "


Alih-alih tinggal selamanya di rumah, cepat atau lambat, seseorang akan meninggalkan rumahnya. Ia harus menjelajah dan menapaki jalan setapak rimba kehidupan yang ada di hadapannya. Nuansanya mungkin mirip solonite. Dingin, gelap, sunyi, sendiri, tidak pasti, dan sarat teka-teki. Namun demikian, ketika keluar dari rumah, seseorang tidak berbekal tangan kosong. Berbekal kehangatan dan kebersamaan yang pernah dialaminya di dalam rumah, ia justru diundang untuk membangun rumah baru untuk dirinya sendiri dan mereka yang tidak punya rumah.
Setelah mengalami dikasihi di dalam rumah, seseorang diundang untuk mengasihi mereka yang ada “di luar rumah”. Setelah seseorang mengalami kehangatan di dalam rumah, ia diundang untuk hadir dan memberikan kehangatan bagi mereka yang tidak pernah punya rumah.
Kata kunci untuk membangun rumah inilah yang agaknya dekat dengan warisan yang St.Ignatius Loyola berikan dalam slogan, ayudar a las almas—menyelamatkan jiwa-jiwa. Tidak mengherankan jika kata “membangun rumah” ini menyiratkan sebuah undangan personal. Setelah mengalami rumah dalam sejarah hidup, aku diundang untuk dapat membangun rumah bagi mereka yang tidak memiliki dan tidak mengalami rumah.


Dengan kata lain, aku merasa tergerak untuk menyediakan diri untuk mendengar seseorang berkeluh kesah, mengakui perasaannya, dan akhirnya berdamai dengan dirinya. Harapannya, setiap orang yang kujumpai sampai pada kesadaran bahwa hidup yang dimilikinya sungguh layak diperjuangkan. Dengan demikian, ia dapat semakin mengamini bahwa sejarah hidup yang telah dijalaninya bukan sekadar rangkaian peristiwa yang menggelinding tanpa makna (history), melainkan sungguh rangkaian kisah kehadiran Allah yang menyejarah dalam hidupnya (His Story).


GASW

Pejaten, 14 Oktober'22

Comments


bottom of page