top of page

Karena History itu His Story

  • Writer: Il pellegrino
    Il pellegrino
  • May 26, 2022
  • 5 min read

Menemukan Wajah-Nya dalam diri Kawula Muda


Tahun 2013, ada sebuah film berjudul Oblivion. Film yang dibintangi oleh Tom Cruise ini menceritakan ekspansi makhluk luar angkasa yang berupaya menguasai bumi. Mereka mencoba memusnahkan bangsa manusia dengan senjata canggih yang dimiliki, termasuk dengan melakukan kloning terhadap seorang astronot bernama Jack Harper. Maka dari itu, bisa ditebak bahwa ada banyak fotocopy dari Jack Harper. Singkat cerita, film sampai pada klimaks ketika Jack Harper bertemu dengan kembaran yang identik dengan dirinya. Di titik inilah Jack Harper kebingungan atas apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya. Seperti judul film ini (oblivion : keadaan terlupa), Jack pun gamang dan mulai mempertanyakan dirinya. Jack Harper mengalami krisis identitas.

Diskusi soal identitas itu tidak akan jauh-jauh dari pertanyaan seputar “siapa aku”. Mengapa permenungan seputar identitas itu penting? Dengan mengenal diri, kita mengetahui, kemana sejatinya kita akan membawa dan mengarahkan hidup kita. Maka dari itu, permenungan seputar identitas berarti berkaitan erat dengan salah satu core value yang sekolah kita, SMA Kolese Gonzaga miliki, yaitu Conscience (berhati nurani).

"Berhati nurani berarti siswa mengenal dirinya sendiri dan realita di sekitarnya."

Dalam Student Handbook SMA Kolese Gonzaga (2019), Conscience (berhati nurani) adalah kemampuan intrinsik seorang individu untuk memilah dan menimbang-nimbang antara yang baik dan benar akan keputusan yang hendak ia ambil untuk bertindak. Dengan demikian, pribadi berhati nurani adalah pribadi yang selain mengenal dirinya sendiri, memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tepat tentang masyarakat dan segala ketidakseimbangan yang terjadi di dalamnya.

Agaknya kata yang perlu digarisbawahi adalah kata “mengenal diri”. Pengenalan diri inilah yang membuat seseorang mampu menimbang-nimbang dan mengambil keputusan yang matang. Alih-alih menjadi pribadi yang reaktif, setiap siswa/i SMA Kolese Gonzaga diundang untuk menjadi pribadi yang reflektif sekaligus visioner.


Menulis Autobiografi

Sebagaimana tujuan memerlukan sarana, upaya mengenal diri pun memerlukan aktivitas konkret tertentu untuk dapat mewujudkannya. Secara khusus, mereka yang terlibat dinamika ini adalah siswa/i kelas X SMA Kolese Gonzaga. Di bulan-bulan awal menjadi gonzagawan/wati, mereka diajak untuk menuliskan autobiografi masing-masing. Adapun kegiatan ini dilakukan secara terbimbing, yaitu di bawah pendampingan team teaching Agama, Bimbingan Konseling (BK), dan Sejarah. Selain itu, hanya team teaching inilah yang nantinya berhak mengakses dan membaca tulisan anak-anak. Maka dari itu, privasi dan kepercayaan adalah syarat mutlak dari dinamika ini.

Para siswa pertama-tama diajak untuk terlebih dahulu mengenal dan mempelajari autobiografi tokoh tertentu, salah satunya St. Ignasius Loyola. Secara khusus, gagasan ini senada dengan perayaan Tahun Ignasian. Anggota Serikat Yesus dan berbagai kelompok yang menimba inspirasi dari Spiritualitas Ignasian mendedikasikan tahun ini sebagai peringatan 500 tahun bertobatnya St. Ignasius Loyola. Hal yang agaknya perlu digarisbawahi adalah kata pertobatan yang menjadi inti perayaannya.

Bukankah yang seharusnya dirayakan adalah keberhasilan? Mengapa justru kegagalan Ignasius yang dipilih untuk dirayakan?

Dalam kacamata manusiawi, yang dialami Ignasius adalah sebuah kemalangan, bahkan kehancuran atas mimpi yang selama ini sudah tertata rapi menjadi seorang tentara. Akan tetapi, serpihan artileri yang mengenai kaki Inigo menjadi jalan bagi Tuhan untuk mengubah seorang pribadi yang semula hanya mengejar kehormatan duniawi menjadi pribadi yang pertama-tama menjadikan Tuhan sebagai Asas Dasar hidupnya.

Hal ini agaknya menyiratkan sebuah undangan. Dalam perjalanan hidup seseorang, kadangkala Tuhan menggunakan berbagai cara agar seorang manusia dapat mengalami perubahan. Maka dari itu, setiap orang diundang untuk dapat menandai titik-titik kehadiran Tuhan yang menyapa seseorang secara personal pula. Setiap orang diundang untuk dapat menemukan kehadiran-Nya, mulai dari pengalaman yang sangat sehari-hari hingga pengalaman yang sangat khusus, yang bahkan paling menyakitkan sekalipun. Kesadaran akan hal inilah yang agaknya mampu menumbuhkan rasa syukur dan ketegasan atas tujuan hidup berdasarkan potensi yang ada pada dirinya.


Tantangan Membangun Kepercayaan

Proyek yang diselenggarakan dengan kerangka collaborative learning ini ternyata cukup menantang. Interaksi yang terjadi secara daring agaknya menjadi tantangan tersendiri. Menjadi cukup menantang untuk dapat membangkitkan kepercayaan antara para pendamping dan anak-anak. Maka dari itu, para pendamping diundang untuk pertama-tama berbagi autobiografi masing-masing sembari menitipkan kepercayaan kepada anak-anak yang mendengarkannya. Dengan sharing yang diadakan, diharapkan tumbuh sikap saling percaya antara murid dan para guru pendamping.

Tantangan juga muncul dalam hal identifikasi perasaan. Adalah hambatan tersendiri bagi anak-anak untuk menuliskan perasaan yang muncul ketika suatu peristiwa dialami.

Ketika tidak mampu mengidentifikasi perasaan, beberapa anak cenderung menggunakan kata “biasa aja” untuk menggambarkan perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya. Seakan-akan, peristiwa yang ada lumrah terjadi dan lewat begitu saja. Maka dari itu, adalah tantangan tersendiri bagi anak-anak untuk menuliskan, “Saya merasa sedih, gembira, kehilangan, dsb.” Sesekali mereka memang perlu diingatkan untuk mulai menulis sekalipun diliputi rasa bingung dan dihantui kata-kata, “harus mulai dari mana”. Penulisan kadangkala terhenti karena si anak perlu izin mematikan kamera, mengambil waktu sejenak dan menenangkan diri.

Sekalipun ditapaki dengan langkah-langkah kecil tak mantap, anak-anak mulai membuka selubung demi selubung, selembar demi selembar sejarah hidup yang telah 14 sampai 15 tahun mereka jajaki. Ketika membaca autobiografi anak-anak tersebut, rasa syukur yang adapun semakin membuncah. Anak-anak ini mau percaya, tidak hanya kepada guru pendamping mereka, tetapi juga kepada SMA Kolese Gonzaga. Mereka mau membagikan pengalaman-pengalaman penting mereka, bahkan yang paling dalam sekalipun.


Dari Insecure menjadi Bersyukur

Sekalipun kemajuan peradaban manusia telah sampai pada periode Revolusi Industri 4.0, kedalaman masih tetap menjadi sesuatu yang diminati. Siswa/i Gonzaga notabene tumbuh di lingkungan perkotaan yang masif perkembangan teknologinya. Akan tetapi, anak-anak muda ini memiliki kerinduan tersendiri untuk mengambil jarak dari hiruk pikuk kesibukan yang ada dan melihat sejenak ke belakang langkah demi langkah kehidupan yang telah dilaluinya.

Perkataan seorang filsuf Yunani,Socrates agaknya ada benarnya, “The unexamined life is not worth living”

Hidup yang tidak pernah teruji, tidak layak untuk dihidupi. Dengan menimbang kembali perjalanan hidup yang telah dilalui, seseorang agaknya semakin mahir untuk dengan tegas menentukan arah hidupnya. Lebih dalam lagi, melalui proses mengingat dan menuliskannya dalam autobiografi, seseorang dituntun untuk dapat sampai pada pengalaman akan Allah yang juga menyejarah dalam hidupnya.


“...aku memang lahir dari keluarga yang ngga sempurna. Aku emang ngga bisa memungkiri kalo yang dilakuin Mama dan Papa itu bikin aku terluka. Ninggalin aku demi pekerjaan dan nitipin ke orang lain itu memang menyakitkan. Melewati setiap titik pertumbuhan tanpa kehadiran mereka memang buat aku ngerasa kesepian. Tapi mau sampe kapan aku nuntut Mama dan Papaku jadi jadi orangtua yang sempurna? I guess I’ll be tired myself. Mungkin yang perlu aku lakuin sekarang yang tinggal bersyukur aja. None is perfect, but everybody tries to. Aku makin maklum dan bisa nerima sama pilihan Papa dan Mama. Kesulitan ekonomi memang mengharuskan mereka ninggalin aku demi pekerjaan. Tetapi inilah wujud nyata mereka menyayangiku. Cinta mereka memang ngga sempurna, tapi cinta mereka itu cinta terbaik yang bisa mereka ungkapin buatku.”


Ungkapan semacam ini menggembirakan dan menggetarkan ketika dicecap-cecap. Ada suatu kesadaran yang tumbuh dalam diri seseorang bahwa dirinya pribadi yang dicintai. Kesadaran inilah yang agaknya membuat hidup seseorang damai dan tidak dihantui oleh kecemasan. Kesadaran inipun membuat seseorang semakin realistis dan maklum ketika berhadapan dengan kerapuhan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Akhirnya, kesadaran inilah yang agaknya menjadi jalan bagi seseorang untuk selangkah lebih dekat pada Sang Sumber Cinta, yaitu Tuhan sendiri (1 Yoh.4:8).

Maka dari itu, mendampingi penulisan autobiografi pun menjadi suatu undangan tersendiri untuk terus-menerus menemukan jejak-jejak kehadiran Tuhan dalam hidup. Ada suatu paradigma yang perlu diubah. Selama ini, sejarah hidup tampaknya hanya sebuah rangkaian peristiwa yang terjadi begitu saja, dalam periode waktu tertentu (history). Akan tetapi, berkaca dari autobiografi anak muda Gonzaga, ada sebuah undangan untuk dapat melihat sejarah hidup sebagai sebuah rangkaian kisah kehadiran Tuhan yang menyejarah pula dalam hidup seorang manusia (His story). Ia hadir melalui pribadi yang senantiasa mendukung dan menemani langkah hidup, baik anggota keluarga, teman-teman seserikat, rekan-rekan kolaborator, maupun orang lain yang secara tidak terduga menjadi cara bagi Tuhan untuk hadir dan meneguhkan perjalanan hidup.




Recent Posts

See All

Comments


bottom of page